New Policy: Kisah Sultan Rifat, Terjerat Kabel Fiber hingga Pita Suara Hilang, Kini Kuliah S2 di Australia
alam Pemulihan Suara dan Karier New Policy - Sebuah kisah inspiratif terungkap melalui perjalanan Sultan Rifat Alfatih (23), seorang mahasiswa yang menghadapi
Kisah Sultan Rifat: Dari Kecelakaan hingga New Policy dalam Pemulihan Suara dan Karier
New Policy – Sebuah kisah inspiratif terungkap melalui perjalanan Sultan Rifat Alfatih (23), seorang mahasiswa yang menghadapi tantangan besar setelah kecelakaan serius. New Policy dalam hidupnya mulai terwujud setelah kejadian pada 5 Januari 2023 yang mengubah segalanya. Saat itu, Sultan terlibat dalam kecelakaan lalu lintas saat berkendara motor di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, yang memaksa ia mengambil keputusan baru untuk memulihkan diri. Saat ini, ia sedang menempuh studi Magister Kebijakan Publik di Australian National University (ANU), Canberra, berkat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebagai bagian dari New Policy dalam hidupnya.
Momen Kecelakaan dan Dampak pada Pita Suara
Kecelakaan terjadi ketika Sultan berkendara bersama teman-temannya yang dulu satu sekolah. Kabel fiber optik yang terjerat pada lehernya menyebabkan kerusakan serius pada kerongkongan, trakea, dan pembuluh nadinya. Akibatnya, Sultan kehilangan suara dan kesulitan menelan. “Saat kecelakaan, ada yang membantu menyelamatkannya dan memberi minum. Namun, minumnya tidak bisa ditelan, bahkan harus dimuntahkan kembali, dengan darah keluar saat itu,” kata Sultan saat dihubungi Kompas.com pada 25 Juni 2026.
Kondisi ini menuntut New Policy dalam pengelolaan kesehatan dan kehidupan sehari-hari. Sultan menjalani perawatan intensif di RSUP Fatmawati, RSCM, dan RS Polri Kramat Jati, dengan proses pemulihan yang memakan waktu hampir setahun. Selama masa pemulihan, ia menggunakan selang NGT untuk mengonsumsi makanan dan corong trakeostomi untuk bernapas, sambil berjuang mengembalikan kemampuan berbicara.
Journey Keberhasilan dalam Perawatan dan Rehabilitasi
Dengan tekad tinggi, Sultan melalui serangkaian operasi dan rehabilitasi yang ketat. Alat digital electrolarynx menjadi bantuan utamanya selama pemulihan, menghasilkan getaran suara yang memungkinkan ia berkomunikasi kembali. “Cara kerjanya kurang lebih nempelin bagian pucuk alatnya ke leher, terus tinggal pencet tombolnya buat menghidupkan dan menggetarkan alatnya, nanti dari getaran tersebut bisa diartikulasikan menjadi sebuah suara gitu,” jelas Sultan.
Seiring waktu, New Policy dalam pemulihan dirinya mulai terwujud. Ia memperoleh kembali kemampuan berbicara dan kembali aktif dalam kehidupan sosial, meski masih dalam proses adaptasi. Sultan pun mampu mengembalikan semangat belajarnya, terutama setelah merasa lebih stabil secara fisik dan mental. Perjuangannya tidak hanya menginspirasi orang-orang di sekitarnya, tetapi juga menjadi contoh bagi siapa pun yang menghadapi keterbatasan serupa.
Setelah pemulihan, Sultan kembali menempuh studi S1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Brawijaya pada Februari 2024. Pemulihan suara dan kesehatannya menjadi dasar untuk New Policy dalam pendidikan tinggi. Ia berharap melalui studi Magister Kebijakan Publik di Australia, bisa memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan kebijakan publik, khususnya untuk pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Kisah Sultan Rifat menunjukkan betapa pentingnya New Policy dalam menghadapi situasi kritis. Dari kecelakaan yang mengubah jalannya, ia menemukan jalan baru untuk mengembangkan diri, baik secara fisik maupun akademik. Pemulihan suara dan karier menjadi bukti bahwa dengan dukungan keluarga, teman, serta komunitas, setiap orang bisa bangkit dan melanjutkan perjalanan hidupnya dengan lebih baik.
