New Policy: Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 1.430 Jiwa, Warga Kecewa Respons Pemerintah
Jiwa, Masyarakat Keluhkan Tanggapan Pemerintah New Policy - Gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada Sabtu (24/6/2026) mengakibatkan jumlah korban tewas
Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 1.430 Jiwa, Masyarakat Keluhkan Tanggapan Pemerintah
New Policy – Gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada Sabtu (24/6/2026) mengakibatkan jumlah korban tewas mencapai 1.430 jiwa, menurut laporan terbaru. Bencana ini menghancurkan banyak infrastruktur, termasuk jembatan, gedung, dan rumah warga. Dalam New Policy yang dijalankan pemerintah, pemerintah berjanji untuk mengevakuasi korban secepat mungkin, tetapi kekecewaan dari masyarakat terus terdengar. Puluhan keluarga di La Guaira, salah satu daerah terparah, mengungkapkan kesulitan dalam mencari korban karena kurangnya alat dan bantuan yang tepat waktu.
Peran New Policy dalam Tanggap Darurat
Dalam New Policy, pemerintah Venezuela memperkenalkan rencana pengalihan tanggung jawab evakuasi dari kepolisian ke tim darurat khusus. Namun, sejumlah warga menilai kebijakan ini belum berjalan optimal. “New Policy mengharuskan kita bekerja lebih efisien, tapi terkadang petugas tak mengerti cara kerja sistem baru,” kata salah satu warga di Caracas, yang dilansir dari media lokal. Banyak korban yang masih terjebak di bawah bangunan runtuh, sementara tim penyelamat kehabisan waktu dan alat karena keterlambatan dari pihak berwenang.
Menurut laporan dari Badan PBB untuk Pengembangan Pangan dan Pertanian, tingkat kebutuhan bantuan makanan dan air di daerah terdampak mencapai 100.000 unit per hari. New Policy bertujuan meningkatkan koordinasi antara lembaga lokal dan internasional, tetapi hambatan logistik seperti kekacauan ekonomi dan keterbatasan transportasi masih menghalangi keberhasilan. Selain itu, kesadaran masyarakat tentang New Policy masih rendah, sehingga banyak warga yang tidak memahami langkah-langkah evakuasi yang diambil pemerintah.
Kerusakan Infrastruktur dan Dampak Ekonomi
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 tersebut menghancurkan lebih dari 20.000 rumah, mengakibatkan ratusan warga mengungsi. PBB memperkirakan kerugian fisik mencapai antara 4,7 hingga 8,7 miliar dolar AS, setara Rp 8,4 hingga Rp 155 triliun. Angka ini menunjukkan bagaimana New Policy yang mengedepankan modernisasi infrastruktur bencana belum sepenuhnya berhasil mengurangi risiko krisis di masa depan.
“Warga masih menunggu New Policy menyelamatkan mereka. Dalam dua hari terakhir, kami hanya menemukan 30 mayat, sementara ratusan korban lainnya belum ditemukan,” ungkap Mileidy Romero, seorang relawan di Caraballeada. Banyak sekali kekacauan di jalan raya karena mobilisasi tim penyelamat tidak terkoordinasi. Anggota militer dan polisi juga dianggap lambat dalam memperbaiki jalan dan mengirimkan bantuan ke wilayah terpencil.
Menurut laporan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, New Policy Venezuela berupaya memperbaiki jalur evakuasi dengan mendirikan posko darurat di setiap kota besar. Tim bantuan dari negara-negara tetangga seperti Meksiko dan Brasil telah tiba, tetapi masih terbatas dalam jumlah. “Kami sedang mengevakuasi 1.600 orang per hari, tapi capaian ini jauh dari target New Policy,” kata Jeremy Lewin, pejabat AS yang sedang berada di lokasi bencana. Kapal angkatan laut AS juga berlabuh di lepas pantai, siap mengirimkan bantuan medis ke wilayah yang lebih terisolasi.
Krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun juga memengaruhi efektivitas New Policy. Pasokan bahan bakar dan logistik terbatas, sehingga banyak tim penyelamat kehilangan kesempatan untuk bekerja lebih efisien. Meski begitu, beberapa organisasi internasional seperti Organisasi Internasional untuk Migrasi memberikan dukungan dalam bentuk penyaluran bantuan makanan dan tenda pengungsian. Dengan New Policy, pemerintah berharap bisa mempercepat proses pemulihan dan mengurangi angka kematian di masa mendatang.
