New Policy: Ramai di Medsos Pekerja Mengeluh Berbagi Tempat di KRL Jogja-Solo dengan Rombongan Anak-anak, Bagaimana Aturannya?
New Policy di KRL Jogja-Solo Menuai Keluhan Pekerja New Policy yang baru diterapkan di Kereta Rel Listrik (KRL) Jogja-Solo telah memicu perdebatan di media
New Policy di KRL Jogja-Solo Menuai Keluhan Pekerja
New Policy yang baru diterapkan di Kereta Rel Listrik (KRL) Jogja-Solo telah memicu perdebatan di media sosial. Banyak pekerja yang mengeluhkan kepadatan di jalur KRL akibat penumpang rombongan study tour anak-anak. Situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan, terutama saat jam sibuk, karena ruang tempat duduk terbatas. Di mana penumpang dewasa harus berbagi dengan anak-anak yang juga menggunakan KRL untuk kegiatan edukasi, mengakibatkan ketegangan antarpenumpang.
Keluhan Pekerja atas New Policy Penggunaan KRL Jogja-Solo
Di Threads, akun pengguna V**** mengungkapkan keluhan mengenai New Policy ini. “Apakah KRL kini sering digunakan untuk rombongan study tour anak TK/SD? Ini kan New Policy,” tulisnya pada 10.40 WIB. Ia menyoroti bahwa anak-anak yang study tour mengisi tempat duduk yang seharusnya dimanfaatkan pekerja untuk pergi ke kantor. Keluhan serupa juga dibagikan oleh @l**** pada Juni 2025, yang mengatakan, “Naik transum (KRL) di hari Senin Pagi tuh ram banget. Ngajakin anak TK study tour naik transum sih gapapa. Tapi mereka naiknya ngga dari stasiun keberangkatan awal. Apa gak kasian?”
Dari beberapa unggahan, keberadaan New Policy ini dianggap mengganggu pengalaman perjalanan pekerja sehari-hari. Anak-anak yang ikut study tour memakai KRL saat jam sibuk, menyebabkan antrean panjang dan kurangnya ruang untuk pekerja yang bepergian ke kantor. Dari laporan di medsos, keluhan ini terus berdatangan meski pihak KAI Commuter telah memberikan penjelasan mengenai aturan yang diterapkan.
Pelaksanaan New Policy oleh KAI Commuter
Menanggapi keluhan tersebut, PR Manager KAI Commuter Leza Arlan menjelaskan bahwa New Policy ini diterapkan untuk memaksimalkan penggunaan KRL secara efisien. “Program C-Taditur merupakan kegiatan edukasi transportasi publik yang diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan penggunaan kereta secara bijak,” kata Leza saat dihubungi pada Jumat (26/6/2026).
Program ini memungkinkan anak-anak PAUD hingga SMK mengikuti study tour dengan didampingi petugas. Namun, ada batasan waktu. Study tour melalui KRL hanya bisa dilakukan antara pukul 09.00-15.00 WIB, sementara jam sibuk pagi (06.00-09.00) dan sore (16.00-19.00) dilarang untuk aktivitas edukasi. “Kami ingin memastikan bahwa New Policy ini tidak mengganggu kebutuhan masyarakat umum,” imbuhnya.
Tujuan dan Kebijakan New Policy dalam C-Taditur
New Policy dalam program C-Taditur bertujuan untuk memperkenalkan pengalaman menggunakan transportasi umum kepada anak-anak sejak dini. Peserta tidak mendapat kereta khusus, melainkan berbaur dengan penumpang umum. “Ini menjadi kesempatan anak-anak belajar disiplin dan tenggang rasa saat bepergian bersama orang dewasa,” terang Leza.
Menurut laman resmi C-Taditur, program ini diterapkan sebagai bagian dari komitmen KAI Commuter dalam edukasi transportasi. Peserta harus mendaftar dan memesan tiket terlebih dahulu. Selama perjalanan, mereka diwajibkan mematuhi aturan di dalam kereta, seperti tidak mengganggu penumpang dewasa atau menghargai tempat duduk yang telah dialokasikan. New Policy ini juga memperkenalkan sistem pengaturan jadwal agar semua penumpang bisa merasakan kenyamanan selama perjalanan.
Respons Publik dan Harapan Masa Depan
Keluhan mengenai New Policy ini memicu diskusi antara pekerja dan pengelola KRL. Sebagian masyarakat menyetujui kebijakan tersebut sebagai upaya mengedukasi anak-anak, sementara sebagian lagi menganggapnya kurang memperhatikan kebutuhan sehari-hari pekerja. “Kami berharap New Policy ini bisa diatur lebih baik agar tidak mengganggu kesibukan masyarakat,” komentar salah satu pengguna di Threads.
KAI Commuter menargetkan program C-Taditur akan berjalan lancar dengan dukungan semua pihak. Mereka juga mengimbau penumpang dewasa untuk bersikap sabar dan menghargai kegiatan edukasi yang dijalankan. “Kami yakin New Policy ini bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi penggunaan KRL secara lebih bijak,” tutur Leza. Selain itu, pihak KAI Commuter juga berencana memperluas program ini ke jalur KRL lain di Indonesia, asalkan tidak mengganggu kebutuhan utama masyarakat.
