New Policy: Sedang Sering Terjadi Mati Lampu Bergilir, Ini 4 Tips Pakar agar Elektronik Awet
New Policy: 4 Tips Meminimalkan Kerusakan Elektronik saat Mati Lampu Bergilir New Policy - Dalam era modern, listrik menjadi bagian tak terpisahkan dari
New Policy: 4 Tips Meminimalkan Kerusakan Elektronik saat Mati Lampu Bergilir
New Policy – Dalam era modern, listrik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, terkadang pemadaman listrik bergilir yang sering terjadi belakangan ini membuat masyarakat kewalahan. Untuk mengatasi masalah ini, New Policy dari Pemerintah Indonesia melalui PT PLN (Persero) memberikan panduan penting kepada warga, terutama bagi pengguna perangkat elektronik. Perangkat seperti TV, kulkas, dan gadget digital bisa mengalami kerusakan akibat fluktuasi tegangan listrik yang tiba-tiba. New Policy ini bertujuan untuk meningkatkan keandalan pasokan energi dan membantu masyarakat merespons gangguan listrik secara lebih efektif.
Penyebab dan Dampak Mati Lampu Bergilir
Menurut PLN, penyebab utama mati lampu bergilir di Pulau Jawa adalah kelebihan beban pada jaringan distribusi energi. Hal ini terjadi karena permintaan listrik yang meningkat pesat, terutama saat musim kemarau atau peak hour. Peningkatan permintaan ini membuat sistem distribusi bekerja di batas maksimal, sehingga menyebabkan kegagalan dalam beberapa titik. New Policy diluncurkan sebagai langkah pencegahan untuk memastikan suplai energi tetap stabil meski dalam kondisi tekanan tinggi.
“Perubahan mendadak tegangan arus listrik bisa merusak komponen elektronik karena mereka didesain untuk bekerja dalam kondisi stabil,” kata Machmud Effendy, Guru Besar Teknik Elektro UMM, saat diwawancarai Kompas.com pada Sabtu (20/6/2026).
Para ahli menekankan bahwa kerusakan akibat tegangan yang tidak konsisten sering kali terjadi pada perangkat dengan komponen sensitif, seperti motherboard, LCD, dan sistem pengontrol. New Policy diharapkan mampu mengurangi frekuensi gangguan tersebut, tetapi masyarakat tetap perlu melakukan langkah pencegahan untuk melindungi perangkat rumah tangga dan elektronik.
Strategi Melindungi Perangkat dengan New Policy
New Policy PLN memberikan rekomendasi praktis untuk menghadapi mati lampu bergilir. Pertama, penggunaan stabilizer voltage dianggap sangat penting untuk menjaga tegangan listrik tetap rata, terutama pada perangkat yang rentan. Stabilizer ini dapat menyerap fluktuasi tegangan, sehingga meminimalkan risiko kerusakan akibat arus yang terlalu tinggi atau rendah. Dengan New Policy, pengguna stabilizer akan lebih mudah ditemukan di berbagai toko elektronik dan pusat layanan.
Menurut Machmud, langkah kedua adalah memutus koneksi listrik saat pemadaman terjadi. “Ketika listrik mati mendadak, lonjakan tegangan saat kembali bisa merusak perangkat. Maka, lebih baik melepas colokan untuk memberi waktu alat elektronik menyesuaikan diri,” jelasnya. New Policy juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan pencahayaan dan pendinginan saat mati lampu, seperti menggunakan lampu senter atau AC tenaga surya.
Alternatif Perangkat Tahan Terhadap Fluktuasi Listrik
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan gangguan listrik, New Policy menyarankan penggunaan perangkat hybrid. Jenis alat ini menggabungkan dua sumber daya, seperti listrik PLN (AC) dan tenaga surya (DC), sehingga tetap beroperasi meski pasokan energi terganggu. Contoh perangkat yang bisa diaplikasikan adalah AC inverter, laptop dengan baterai ekstra, dan kulkas tenaga surya. New Policy menekankan pentingnya transisi ke perangkat ini untuk meminimalkan risiko kehilangan data atau kerusakan permanen.
Penambahan colokan surge protector juga menjadi bagian dari New Policy. Alat ini berfungsi sebagai pelindung tambahan yang menyerap lonjakan tegangan tiba-tiba, seperti saat listrik kembali nyala. Dengan kombinasi stabilizer dan surge protector, masyarakat dapat melindungi perangkat elektronik secara lebih maksimal. New Policy memberikan panduan umum tentang cara memasang kedua alat ini dengan benar.
Pelatihan dan Edukasi untuk Meningkatkan Respon
New Policy tidak hanya berupa alat, tetapi juga edukasi bagi masyarakat. Pemerintah bekerja sama dengan PLN dan instansi terkait memberikan pelatihan cara merawat perangkat elektronik dan mengelola keadaan darurat listrik. Pemahaman tentang mekanisme tegangan, seperti perbedaan AC dan DC, menjadi dasar untuk mengambil tindakan tepat saat mati lampu bergilir. Materi pelatihan ini juga mencakup cara mengidentifikasi perangkat yang rentan dan kebiasaan penggunaan listrik yang sehat.
Menurut Machmud, edukasi ini sangat relevan karena sebagian besar masyarakat masih kurang memahami risiko fluktuasi listrik. “New Policy membantu memberi kesadaran akan pentingnya perangkat tambahan seperti stabilizer dan surge protector,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa pelatihan bisa dilakukan melalui media sosial, pusat layanan PLN, atau komunitas teknologi lokal. Dengan New Policy, masyarakat lebih siap menghadapi gangguan listrik dan meminimalkan kerusakan perangkat.
Dengan menggabungkan alat penunjang dan pengetahuan tentang cara merawat elektronik, New Policy memastikan bahwa masyarakat dapat merespons mati lampu bergilir secara lebih efektif. Penggunaan stabilizer, pengelolaan colokan, serta pilihan perangkat hybrid menjadi solusi yang mudah diimplementasikan. Langkah-langkah ini tidak hanya menghemat biaya perbaikan perangkat, tetapi juga memperpanjang umur elektronik rumah tangga. Dengan New Policy, harapan masyarakat semakin tinggi untuk mendapatkan pasokan energi yang lebih stabil dan aman.
