Oman Usul ke Iran, Pengelolaan Selat Hormuz Dibikin Serupa Selat Malaka
Oman mengajukan proposal penting kepada Iran mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Usulan ini menawarkan mekanisme pembayaran sukarela bagi kapal-kapal yang
Oman Ajukan Skema Baru Pengelolaan Selat Hormuz kepada Iran
Lenterafakta.com – Oman mengajukan proposal penting kepada Iran mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Usulan ini menawarkan mekanisme pembayaran sukarela bagi kapal-kapal yang melewati jalur strategis tersebut. Langkah diplomasi ini bertujuan meredakan gangguan perdagangan yang terjadi selama konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Oman Usul ke Iran Pengelolaan Selat Hormuz menjadi fokus perhatian internasional sejak pertama kali disampaikan.
Sumber dari negara-negara Teluk serta seorang diplomat Barat mengonfirmasi hal ini kepada Reuters pada Selasa (28/7/2026). Dalam rencana yang diajukan, Iran tidak akan memiliki kendali penuh atas selat tersebut. Biaya yang dibayarkan oleh kapal bersifat opsional, bukan pungutan yang dipaksakan. Model ini diharapkan dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat.
Meniru Model Selat Malaka
Skema yang ditawarkan Oman menyerupai sistem kerja sama di Selat Malaka. Jalur pelayaran Asia ini dikelola bersama oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kapal-kapal di sana dapat memberikan kontribusi sukarela untuk berbagai keperluan. Oman Usul ke Iran Pengelolaan dengan cara yang sama telah lama dipertimbangkan oleh para ahli maritim.
Kontribusi tersebut digunakan untuk navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan. Seorang diplomat Barat membandingkan mekanisme ini dengan kontribusi karbon sukarela dalam penerbangan. Penumpang pesawat bisa memilih membayar tambahan untuk mendukung upaya pengurangan emisi. Pendekatan serupa diyakini dapat mengurangi ketegangan di kawasan Teluk.
Posisi Berbeda Negara Terkait
Usulan Oman menjadi jalan tengah atas perbedaan pandangan tentang pengelolaan Selat Hormuz. Iran sebelumnya menyatakan keinginan untuk mengelola selat bersama Oman yang menguasai wilayah pesisir di sisi lain. Teheran juga menginginkan adanya biaya layanan bagi kapal yang memanfaatkan jalur tersebut. Oman Usul ke Iran Pengelolaan ini dinilai sebagai inisiatif yang konstruktif.
Di sisi lain, Amerika Serikat menginginkan kondisi kembali seperti sebelum konflik. Washington berpendapat kapal harus bisa melintas dengan bebas tanpa membayar biaya tambahan. Pungutan wajib untuk melintasi selat dinilai Washington sebagai tindakan ilegal. Perbedaan pandangan ini menjadi tantangan utama dalam negosiasi.
Perkembangan Diplomatik dan Pasar
Hingga Senin (27/7/2026) malam, belum ada tanggapan resmi dari Iran mengenai proposal tersebut. Pejabat Oman diketahui telah bertemu dengan sejumlah pejabat Iran di Teheran pada akhir pekan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga membahas isu Selat Hormuz dengan Menteri Luar Negeri Oman dan Arab Saudi pada Senin. Oman Usul ke Iran Pengelolaan terus mendapat dukungan dari berbagai negara regional.
Araghchi menekankan pentingnya kerja sama regional dalam mengelola situasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global mengalir melalui selat tersebut. Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal selain kapal mereka sendiri setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Penutupan ini berdampak signifikan terhadap pasokan energi global.
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran pada bulan lalu sempat membuka kembali sebagian jalur pelayaran. Namun, kesepakatan itu kembali runtuh pada awal Juli setelah Iran menembaki kapal-kapal yang menggunakan jalur yang tidak disetujui oleh Teheran. Oman Usul ke Iran Pengelolaan muncul sebagai alternatif untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Dampak terhadap Harga Minyak
Ketegangan di kawasan tersebut turut berdampak pada harga minyak dunia. Penghentian serangan udara AS pada akhir pekan membuat harga minyak anjlok sekitar 8 persen pada Senin (27/7/2026), sebelum kembali turun pada Selasa. Minyak mentah Brent tercatat turun lebih dari 2,5 persen menjadi sekitar 86 dollar AS per barrel pada Selasa pagi. Pasar merespons positif setiap perkembangan diplomasi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menghentikan kampanye serangan udara AS selama dua pekan terhadap Iran. Trump mengatakan terdapat peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran, tetapi mengancam akan kembali melancarkan serangan jika negosiasi gagal. Iran sendiri membantah telah mengupayakan pembicaraan baru dengan Amerika Serikat. Oman Usul ke Iran Pengelolaan diharapkan dapat menjadi fondasi untuk kesepakatan yang lebih luas.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya mencapai kesepakatan pada Juni mengenai kerangka pembicaraan yang rencananya berlangsung hingga akhir Agustus. Pembicaraan tersebut ditujukan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan utama, termasuk program nuklir Iran. Namun, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai isi kesepakatan terkait Selat Hormuz.
AS menilai kesepakatan tersebut mengharuskan Iran menjamin kebebasan pelayaran, sedangkan Iran menyatakan kesepakatan memberikan kewenangan kepada mereka untuk mengawasi lalu lintas kapal yang melintas di selat tersebut.
