Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Pakar Ungkap Efek Salah Isi BBM pada Kendaraan – Bisa Turunkan Performa hingga Rusak Mesin

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

Efek Salah Isi BBM pada Kendaraan Pakar Ungkap Efek Salah Isi BBM - Salah satu masalah umum dalam penggunaan kendaraan bermotor adalah pemilihan bahan bakar

Pakar Ungkap Efek Salah Isi BBM pada Kendaraan – Bisa Turunkan Performa hingga Rusak Mesin

Pakar Ungkap Efek Salah Isi BBM pada Kendaraan

Pakar Ungkap Efek Salah Isi BBM – Salah satu masalah umum dalam penggunaan kendaraan bermotor adalah pemilihan bahan bakar yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin. Menurut Cuk Supriyadi Ali Nandar, kepala organisasi riset energi dan manufaktur BRIN, kesalahan ini bisa mengurangi performa mesin hingga menyebabkan kerusakan permanen. Dalam keterangan kepada Kompas.com, Sabtu (27/6/2026), Supriyadi menjelaskan bahwa setiap teknologi kendaraan dirancang berdasarkan karakteristik fisik dan kimia bahan bakar tertentu. Jika BBM tidak sesuai, konsekuensinya bisa sangat signifikan, mulai dari penurunan daya mesin hingga gangguan pada komponen kritis.

Jenis BBM dan Rekomendasi Penggunaan

Di Indonesia, berbagai jenis bahan bakar tersedia, seperti Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamax Turbo (RON 98), dan solar untuk mesin diesel. Meski berbagai BBM ini memiliki keunggulan masing-masing, pemilihan yang salah bisa mengganggu efisiensi. Misalnya, kendaraan bermesin bensin Euro 3 dirancang untuk menggunakan BBM RON 90, sedangkan mesin Euro 4 mungkin membutuhkan RON 92. Jika BBM yang lebih tinggi dipaksa digunakan, mungkin akan terjadi pemborosan bahan bakar dan penurunan performa.

“Penggunaan bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari yang direkomendasikan oleh produsen bisa menyebabkan knocking atau detonasi yang merusak piston dan komponen mesin lainnya,” jelas Supriyadi.

Kendaraan diesel Euro 4, yang menggunakan solar, dirancang dengan kadar sulfur maksimal 50 ppm. Jika BBM yang digunakan memiliki sulfur di atas batas tersebut, efisiensi emisi akan menurun, dan mesin bisa mengalami korosi lebih cepat. Selain itu, BBM yang tidak sesuai dengan jenis mesin juga bisa mengganggu sistem pembakaran, mempercepat pengendapan pada saluran bahan bakar, dan mengurangi daya torsi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas BBM

Pemilihan BBM yang tepat tidak hanya bergantung pada oktan, tetapi juga pada kualitas penguapan, stabilitas penyimpanan, dan kadar aditif. Kualitas penguapan memengaruhi kemudahan pembakaran, sementara stabilitas menyebabkan pengendapan yang bisa mengganggu aliran bahan bakar. Aditif, seperti deterjen dan antikorosi, berperan penting dalam menjaga kebersihan mesin dan memperpanjang umur komponen. Namun, jika aditif tidak sesuai dengan spesifikasi mesin, efeknya bisa berkebalikan, seperti meningkatkan kerak pada karburator atau mengurangi efisiensi mesin.

“Kadar sulfur dalam solar yang tinggi, misalnya, bisa merusak sistem emisi dan mengurangi keandalan mesin jangka panjang,” tambah Supriyadi.

Beberapa faktor lain, seperti viskositas dan kekentalan BBM, juga perlu diperhatikan. Mesin diesel yang dirancang untuk solar viskositas rendah akan mengalami masalah jika digunakan dengan solar yang terlalu kental, seperti penurunan efisiensi aliran dan peningkatan beban pada pompa bahan bakar. Di sisi lain, mesin bensin yang membutuhkan BBM dengan volatilitas tinggi akan mengalami pembakaran yang tidak optimal jika BBM yang kurang volatil dipakai, mengakibatkan pemborosan bahan bakar dan emisi yang lebih tinggi.

Langkah-Langkah Menghindari Kerusakan Mesin

Untuk menghindari efek negatif dari salah isi BBM, Supriyadi menyarankan pengguna kendaraan untuk memeriksa spesifikasi mesin di buku manual atau website resmi produsen. Selain itu, memilih BBM dari sumber terpercaya dan menghindari BBM yang mengandung kadar sulfur di atas batas standar bisa meminimalkan risiko kerusakan. “Sumber BBM yang tidak terjaga kualitasnya, seperti yang mengandung partikel asing, bisa menyebabkan keausan pada komponen mesin,” imbuhnya.

Supriyadi juga menekankan pentingnya penggunaan BBM yang sesuai untuk mengoptimalkan performa kendaraan. Misalnya, mesin dengan teknologi turbocharger membutuhkan BBM dengan oktan tinggi untuk menghindari knocking dan menjaga keandalan kompresi. Jika BBM yang tidak tepat digunakan, mesin bisa mengalami kepanasan berlebih, yang berpotensi merusak selang dan komponen lainnya. Selain itu, penggunaan BBM dengan sifat kimiawi tidak seimbang, seperti tingginya kadar aromatik, bisa mengakibatkan pembentukan deposit pada katup dan injektor, yang mengurangi efisiensi mesin seiring waktu.

Dengan memahami mekanisme kerja BBM dan mematuhi rekomendasi pabrikan, pengguna kendaraan dapat meminimalkan risiko kerusakan mesin. Hal ini bukan hanya membantu memperpanjang usia kendaraan, tetapi juga mengurangi biaya perbaikan dan konsumsi bahan bakar. Supriyadi menyarankan untuk mengganti BBM yang salah sesegera mungkin dan memperhatikan indikator mesin seperti suara knocking, konsumsi bahan bakar yang berlebihan, atau penurunan daya mesin sebagai tanda adanya kesalahan penggunaan BBM.

Join the discussion