Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di London Usai Konsumsi Narkoba

Robert Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di London dalam keadaan tragis setelah ditemukan tanpa nyawa di kamar hotelnya. Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin

Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di London Usai Konsumsi Narkoba

Kematian Pangeran Saudi di London: Kombinasi Obat dan Alkohol

Lenterafakta.com – Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di London dalam keadaan tragis setelah ditemukan tanpa nyawa di kamar hotelnya. Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi al Saud, bangsawan berusia 29 tahun tersebut, ditemukan terbaring di lantai kamar mandi yang terkunci di London Marriott Hotel Kensington. Kamar hotel mewah ini menawarkan tarif sewa sebesar 600 poundsterling atau setara Rp 14,3 juta setiap malamnya bagi para tamu yang menginap.

Penemuan jenazah terjadi pada 25 November 2025, namun laporan resmi baru diterbitkan pada Kamis, 23 Juli 2026, sebagaimana dikutip dari The Telegraph. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kadar alkohol dalam darah sang pangeran mencapai 222 miligram per 100 mililiter darah. Angka ini hampir tiga kali lipat batas maksimum yang berlaku di Inggris untuk mengemudi, yaitu 80 miligram. Kondisi ini menunjukkan bahwa pangeran dalam keadaan sangat mabuk saat ditemukan.

Riwayat Pengobatan Kecanduan

Mendiang diketahui telah berjuang melawan kecanduan alkohol dan Xanax selama beberapa waktu. Tiga bulan sebelum kematiannya, ia menjalani perawatan rawat inap di Klinik Priory, Roehampton, London. Biaya perawatan di fasilitas tersebut mencapai 35.000 poundsterling atau Rp 837,4 juta per minggu, mencerminkan tingkat kemewahan yang biasa dinikmati oleh keluarga kerajaan.

Selama di Priory, Abdullah menjalani proses detoksifikasi dari alkohol, benzodiazepin, serta obat anti-kecemasan pregabalin. Victoria Chamorro, seorang psikiater konsultan, menjelaskan bahwa sang pangeran menunjukkan respons positif selama perawatan. Ia aktif berpartisipasi dalam sesi terapi dan menunjukkan perbaikan signifikan dalam kondisi mentalnya.

“Dia berpartisipasi dengan baik dalam proses detoksifikasi di The Priory, yang berjalan tanpa menimbulkan efek samping fisik. Dia bersikap mendukung dan ramah terhadap sesama pasien, serta menjalin pertemanan,” ujar Chamorro.

Psikiater tersebut menambahkan bahwa saat masuk rumah sakit, pangeran dinilai mengalami gejala suasana hati rendah dan kecemasan. Namun, saat dipulangkan, ia tidak dianggap berisiko bunuh diri. Ia kembali bersama seorang teman, tetapi kemudian tidak hadir dalam janji temu Zoom yang telah dijadwalkan. Setelah meninggalkan Priory, Abdullah melanjutkan perawatan di klinik swasta Rainford Hall, St Helens, Merseyside, dengan tarif 7.000 poundsterling atau Rp 167,4 juta per minggu.

Kronologi Malam Terakhir

Pangeran Saudi tersebut check-in di London Marriott Hotel Kensington pada 19 November 2025 untuk menginap selama satu minggu. Kamera CCTV merekamnya terakhir kali pada malam sebelum kematiannya saat keluar dari kamar untuk merokok. Seorang petugas kebersihan kemudian menemukan tubuhnya terbaring dengan pakaian lengkap di lantai kamar mandi yang terkunci di lantai lima. Petugas medis darurat berusaha menyelamatkan nyawanya, namun upaya tersebut tidak berhasil. Abdullah bin Fahad dinyatakan meninggal dunia.

Vonis Kematian

Laporan toksikologi mengonfirmasi adanya kadar GHB yang berpotensi mematikan dalam tubuhnya. Selain itu, ditemukan jejak ganja, obat penenang alprazolam (Xanax), serta obat penenang lainnya. Hasil otopsi menunjukkan bahwa sang pangeran tidak menderita penyakit akut maupun kronis, namun mengalami henti jantung akibat kombinasi obat-obatan dan alkohol.

Jean Harkin, asisten koroner, menyatakan bahwa ia tidak percaya korban berniat mengakhiri hidupnya. Catatan dari Priory maupun Rainford Hall tidak menunjukkan kekhawatiran apapun. Rekaman CCTV juga membuktikan bahwa ia sendirian pada malam sebelum kematiannya, sehingga tidak ada bukti keterlibatan pihak ketiga.

“Saya ingin menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga Abdullah,” ungkap Harkin, sebagaimana dilansir dari London Evening Standard pada Jumat, 24 Juli 2026.

Vonis akhir menyatakan bahwa kematian terjadi akibat kecelakaan tak disengaja, dengan penyebab utamanya berupa konsumsi berbagai jenis obat-obatan secara bersamaan. Kasus ini menjadi perhatian media internasional karena melibatkan bangsawan Saudi yang memiliki riwayat pengobatan kecanduan sebelumnya.

Join the discussion