Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Penyakit Ginjal Bisa Berujung Cuci Darah, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Susan Jones - lenterafakta.com 3 mins read

```html

Penyakit Ginjal Bisa Berujung Cuci Darah, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Lenterafakta.com – “`html

Gangguan Ginjal yang Terabaikan Dapat Memerlukan Terapi Cuci Darah

Kondisi ginjal yang tidak ditangani sejak awal berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan serius, bahkan hingga menyebabkan gagal ginjal. Ketika pasien mencapai tahap akhir gagal ginjal, terapi pengganti fungsi organ tersebut menjadi pilihan, termasuk prosedur hemodialisis atau yang lebih dikenal sebagai cuci darah.

dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH., FINASIM, seorang dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong, menyoroti batu ginjal sebagai salah satu gangguan yang patut diwaspadai. Batu yang tidak segera ditangani dapat menghambat aliran urine, memicu infeksi, dan secara bertahap merusak fungsi ginjal.

“Kalau batunya kita diamkan, bisa menyebabkan infeksi, aliran urine menjadi tersumbat sehingga terjadi hidronefrosis atau pembengkakan ginjal. Kalau terlambat ditangani, akhirnya bisa menjadi gagal ginjal,” jelas Mutalib.

Peluncuran Klinik Urologi dan Nefrologi

Pernyataan tersebut disampaikan saat peluncuran Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong di Auditorium Bethsaida Hospital, Tangerang, pada Rabu (29/7/2026).

Mutalib menjelaskan bahwa batu ginjal merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam layanan urologi di Indonesia. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih berulang, penyumbatan saluran urine, pembengkakan ginjal, hingga penurunan fungsi ginjal. Risiko gagal ginjal terminal juga meningkat apabila batu ginjal tidak segera diperiksa dan ditangani.

Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat perlu mengenali sejumlah gejala awal yang dapat mengarah pada gangguan ginjal. Gejala tersebut antara lain nyeri pada pinggang atau punggung bagian bawah. Keluhan lainnya meliputi rasa nyeri ketika buang air kecil, gangguan berkemih, maupun urine yang bercampur darah.

Pemeriksaan medis perlu segera dilakukan ketika keluhan tersebut muncul agar kerusakan ginjal dapat dicegah sebelum menjadi permanen. Mutalib menekankan, masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai rasa sakit semakin berat atau aktivitas sehari-hari terganggu untuk memeriksakan diri.

Faktor Penyebab dan Pencegahan

Salah satu faktor utama yang dapat memicu pembentukan batu ginjal adalah kurangnya asupan cairan. Risiko tersebut semakin besar bagi masyarakat yang tinggal di negara beriklim tropis seperti Indonesia karena tubuh lebih mudah kehilangan cairan melalui keringat.

“Kalau kurang minum, tubuh cenderung mengalami dehidrasi. Kristal hasil metabolisme makanan akan berkumpul di ginjal dan lama-kelamaan membentuk batu,” ujarnya.

Saat tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat sehingga zat sisa metabolisme lebih mudah mengendap dan membentuk kristal. Kristal yang terus menumpuk kemudian dapat berkembang menjadi batu di dalam ginjal maupun saluran kemih.

Selain dehidrasi, masyarakat juga perlu berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, minuman, obat-obatan, dan jamu. Konsumsi berlebihan atau penggunaan tanpa pengawasan dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal, terutama apabila produk tersebut mengandung zat yang membebani fungsi ginjal.

Pentingnya Edukasi dan Pemeriksaan Berkala

Edukasi mengenai pola hidup sehat dan penggunaan obat secara bijak diperlukan untuk mencegah terjadinya gangguan ginjal. Obat maupun jamu sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan, terlebih dalam jangka panjang, tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Penyakit ginjal tidak hanya berisiko dialami kelompok lanjut usia. Mutalib mengatakan, kelompok usia produktif juga dapat mengalami gangguan ginjal akibat kebiasaan kurang minum dan jarang menjalani pemeriksaan kesehatan. Kasus batu ginjal, menurut dia, banyak ditemukan pada masyarakat berusia 25 hingga 35 tahun.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk pemeriksaan urine atau urinalisis, disarankan mulai dilakukan sejak usia muda. Pemeriksaan menjadi semakin penting bagi seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ginjal.

Anak-anak juga perlu mendapatkan perhatian karena kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula dan mengandung pewarna secara berlebihan berpotensi meningkatkan risiko gangguan ginjal. Orangtua perlu mengawasi pola makan dan minum anak serta membiasakan konsumsi air putih sejak dini.

Saran Praktis untuk Kesehatan Ginjal

Upaya menjaga kesehatan ginjal dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mutalib menyarankan masyarakat mencukupi kebutuhan air putih sekitar 1,5 hingga 2 liter setiap hari. Kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, serta lingkungan tempat tinggal.

Masyarakat juga disarankan rutin berolahraga dan menerapkan pola makan seimbang untuk menjaga fungsi ginjal serta metabolisme tubuh. Pemeriksaan kesehatan berkala perlu dilakukan untuk menemukan gangguan ginjal sejak tahap awal, bahkan sebelum menimbulkan keluhan berat.

“`

Join the discussion