Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Phantom Twist, Drone yang Bisa Menyamarkan Diri seperti Kabut Saat Terbang

Mary Smith - lenterafakta.com 3 mins read

Tim peneliti dari Northwestern University telah berhasil menciptakan terobosan baru dalam dunia teknologi drone. Perangkat yang diberi nama Phantom Twist ini

Phantom Twist, Drone yang Bisa Menyamarkan Diri seperti Kabut Saat Terbang

Phantom Twist Drone yang Bisa Menyamarkan Diri Saat Terbang

Lenterafakta.com – Tim peneliti dari Northwestern University telah berhasil menciptakan terobosan baru dalam dunia teknologi drone. Perangkat yang diberi nama Phantom Twist ini memanfaatkan prinsip persepsi visual manusia untuk menjadi hampir tak terlihat di udara. Berbeda dengan metode penyamaran konvensional yang menggunakan cat khusus atau material transparan, inovasi ini mengandalkan kecepatan rotasi sebagai mekanisme utama. Phantom Twist Drone yang Bisa berputar dengan kecepatan tinggi sehingga bentuknya menyatu menjadi satu kesatuan buram yang sulit dibedakan dari latar belakang.

Mekanisme Penyamaran Berbasis Persepsi Manusia

Saat beroperasi di udara, Phantom Twist tampak seperti awan tipis atau bayangan samar yang melayang tanpa bentuk jelas. Seluruh struktur badan drone berputar secara konstan, sehingga tidak ada bagian statis yang bisa menjadi titik fokus mata manusia. Kecepatan rotasi mencapai 25 putaran setiap detik, membuat bentuk drone menyatu menjadi satu kesatuan buram yang menyerupai kabut tipis.

Desain ini berbeda jauh dari quadcopter biasa yang memiliki empat rotor mengelilingi badan utama. Phantom Twist hanya memerlukan satu motor dan satu baling-baling saja untuk beroperasi. Baling-baling berputar ke satu arah, sementara badan drone bergerak berlawanan arah. Hasilnya, pengamat tidak lagi melihat mesin terbang dengan kontur tegas, melainkan sekadar noda transparan di udara yang sulit dikenali.

Proses Penelitian dan Simulasi Virtual

Penemuan ini dipaparkan dalam konferensi Robotics: Science and Systems yang diselenggarakan di Sydney, Australia, pada 16 Juli 2026. Michael Rubenstein, profesor komputasi dan teknik mesin di Northwestern University, memimpin penelitian ini bersama timnya.

Sebagian besar upaya untuk menyembunyikan drone berfokus pada membuatnya tampak seperti lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, kami bertanya apakah kami dapat mendesain drone itu sendiri berdasarkan cara manusia mempersepsikan gerakan.

Untuk mencapai hasil optimal, tim peneliti melakukan simulasi virtual terhadap sekitar 20.000 konfigurasi drone. Posisi berbagai komponen seperti motor, baling-baling, baterai, papan sirkuit, dan pemberat diatur dalam kombinasi berbeda. Setiap desain kemudian diuji melalui simulasi untuk memastikan stabilitas penerbangan sekaligus meminimalkan visibilitas. Emma Alexander, pakar visi komputer yang turut serta dalam penelitian, menjelaskan bahwa mata manusia memerlukan waktu tertentu untuk mengumpulkan sinyal visual.

Proses ini mirip dengan mekanisme pencahayaan pada kamera. Ketika objek berputar dengan kecepatan cukup tinggi, bagian-bagian dan tepinya akan terlihat menyatu menjadi satu bentuk buram. Setelah tahap simulasi awal, para peneliti menempatkan gambar drone pada lebih dari 100 latar belakang berbeda. Mulai dari langit biru, pepohonan hijau, hingga bangunan perkotaan. Model persepsi visual digunakan untuk mengevaluasi tingkat keterlihatan setiap desain.

Hasil Pengujian dan Potensi Aplikasi

Sebanyak 500 desain dengan skor visibilitas terendah kemudian dioptimalkan lebih lanjut hingga ditemukan konfigurasi terbaik. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa Phantom Twist sekitar sepuluh kali lebih sulit dideteksi dibandingkan quadcopter konvensional. Versi akhir sengaja dirancang dengan komponen yang tidak membentuk perangkat keras padat. Setiap bagian ditempatkan pada ketinggian dan sudut berbeda dengan ruang kosong di antaranya.

Susunan ini mencegah komponen membentuk siluet saat badan drone berputar. Para peneliti melihat potensi besar Phantom Twist dalam berbagai bidang. Perangkat ini dapat digunakan untuk memantau burung yang sedang bersarang tanpa mengganggu aktivitas mereka. Selain itu, Phantom Twist juga berpotensi membantu survei lahan basah, pemantauan ekosistem, serta inspeksi infrastruktur dengan cara yang tidak terlalu mencolok bagi manusia maupun hewan.

Meski demikian, teknologi ini belum sempurna. Baling-baling masih menghasilkan suara yang cukup keras, dan kabel serta batang penyangga tipis tetap terlihat dari sudut pandang tertentu. Tim peneliti berencana mengembangkan generasi berikutnya dengan material yang lebih transparan dan sistem penggerak yang lebih senyap. Temuan ini dipublikasikan melalui Live Science pada Kamis, 23 Juli 2026, dan membuka peluang baru dalam teknologi drone yang berfokus pada interaksi harmonis dengan persepsi manusia.

Join the discussion