Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Remaja Sering Murung dan Menarik Diri? Waspadai Tanda Gangguan Mental

Susan Jones - lenterafakta.com 3 mins read

Masa remaja merupakan periode krusial dalam pembentukan karakter dan masa depan individu. Dalam fase ini, para remaja menghadapi transformasi yang terjadi

Remaja Sering Murung dan Menarik Diri? Waspadai Tanda Gangguan Mental

Perlu Waspada: Gangguan Mental pada Remaja yang Sering Menarik Diri

Lenterafakta.com – Masa remaja merupakan periode krusial dalam pembentukan karakter dan masa depan individu. Dalam fase ini, para remaja menghadapi transformasi yang terjadi secara bersamaan—mulai dari perubahan fisik, emosional, sosial, hingga kognitif. Berbagai faktor seperti tekanan sekolah, dinamika keluarga, hubungan pertemanan, pencarian identitas diri, serta paparan media sosial berpotensi menimbulkan beban psikologis jika tidak ditangani secara optimal.

Data Mengenai Kesehatan Mental Remaja

Hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mengungkapkan bahwa sekitar 15,5 juta remaja atau setara dengan 34,9 persen pernah mengalami masalah kesehatan mental. Sementara itu, data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa satu dari tujuh anak berusia 10 hingga 19 tahun di seluruh dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa angka sepertiga remaja tersebut tidak berarti semua mengalami gangguan mental secara bersamaan. Angka ini lebih mencerminkan lifetime prevalence, yaitu kondisi di mana seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya satu kali sepanjang masa remajanya. Meskipun demikian, temuan ini tetap perlu mendapat perhatian serius karena menunjukkan tingginya jumlah remaja yang menghadapi tekanan psikologis.

Membedakan Krisis Pertumbuhan dan Gangguan Mental

Rahmat menekankan bahwa tidak setiap perubahan emosi atau krisis yang dialami remaja dapat dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental. Kebingungan, rasa tidak percaya diri, perubahan suasana hati, dan konflik dengan lingkungan dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan menuju kedewasaan.

Mengalami krisis pada tahap pertumbuhan itu hal yang wajar. Keberhasilan melewati dan menghadapi krisis pertumbuhan itulah yang menjadi tangga menuju kedewasaan dan kematangan.

Masalah mulai muncul ketika krisis tidak berhasil diatasi, terus menumpuk, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Rahmat membedakan masalah psikososial dan gangguan kesehatan mental berdasarkan fungsi yang terdampak. Masalah psikososial umumnya memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan fungsi sosial, sedangkan gangguan kesehatan mental dapat mengganggu emosi, proses berpikir, hingga persepsi terhadap realitas.

Mengalami kebingungan, merasa tidak percaya diri, atau emosi yang bergejolak merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Tetapi kalau ini berlanjut menjadi kesedihan tanpa habis, depresi, nah itu sudah menjadi masalah kesehatan jiwa.

Peran Stres dan Keluarga dalam Kesehatan Mental

Menurut Rahmat, stres juga tidak selalu berdampak buruk karena dapat mendorong seseorang berkembang. Namun, stres yang terlalu berat dan berlangsung lama berisiko melampaui ketahanan fisik maupun psikologis seseorang.

Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan perilaku remaja. Rahmat mengatakan, memberikan ruang kepada anak untuk memproses emosinya berbeda dengan mengabaikan masalah yang sedang dihadapinya. Orangtua perlu menciptakan suasana yang aman agar anak bersedia bercerita tanpa merasa dihakimi.

Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, memberi ruang, memberi space. Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi.

Tanda dan Solusi untuk Gangguan Mental Remaja

Perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus perlu mendapat perhatian, seperti mengurung diri selama beberapa hari, kehilangan minat beraktivitas, menjauh dari lingkungan, atau mengalami perubahan emosi secara drastis. Komunikasi yang hangat perlu dilakukan sebelum masalah berkembang semakin berat. Bantuan profesional juga perlu dipertimbangkan apabila perubahan tersebut telah mengganggu aktivitas dan fungsi sehari-hari.

Rahmat menilai meningkatnya literasi kesehatan mental membuat semakin banyak orang berani mengenali kondisinya dan mencari bantuan. Namun, pemahaman tersebut perlu didukung layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau. UGM, misalnya, menyediakan Unit Layanan Kesehatan Mental, Mental Health Emergency Response Lines, dan sejumlah program pendampingan bagi sivitas akademika.

Rahmat juga mendukung pelaksanaan skrining kesehatan mental di sekolah dan perguruan tinggi. Skrining dapat membantu mendeteksi individu yang membutuhkan bantuan sejak dini. Namun, proses tersebut harus diikuti pemantauan, pendampingan, dan akses kepada tenaga profesional.

Screening efektif, tetapi tidak cukup. Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti PHP saja.

Menurut Rahmat, gangguan kesehatan mental tidak seharusnya dipandang sebagai aib atau kelemahan. Remaja perlu menerima kondisi yang sedang dihadapi dan mencari bantuan yang tepat untuk pulih.

Join the discussion