Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Satu Keluarga, Empat Korban Masih Anak-anak

Nancy Moore - lenterafakta.com 3 mins read

Sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan Israel di wilayah Gaza pada hari Selasa, 21 Juli 2026, telah menewaskan satu keluarga lengkap. Serangan

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Satu Keluarga, Empat Korban Masih Anak-anak

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Satu Keluarga, Empat Anak-anak di Antara Korban

Lenterafakta.com – Sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan Israel di wilayah Gaza pada hari Selasa, 21 Juli 2026, telah menewaskan satu keluarga lengkap. Serangan tersebut menghantam sebuah hunian di kawasan Sabra, Kota Gaza, dan mengakibatkan enam orang kehilangan nyawa. Di antara korban jiwa terdapat pasangan suami istri, Firas al-Masri dan Salsabeel al-Masri, serta keempat putra-putri mereka yang terdiri dari tiga gadis dan satu anak laki-laki. Keempat anak-anak tersebut menjadi korban paling tragis dalam serangan ini.

Menurut informasi yang dihimpun dari pejabat kesehatan setempat, seluruh anggota keluarga tersebut sedang dalam keadaan tertidur lelap saat ledakan dahsyat terjadi. Video yang ditayangkan oleh Reuters menunjukkan para penyelamat bekerja keras memadamkan api yang melalap bangunan tersebut. Jenazah-jenazah kemudian dievakuasi dari puing-puing dengan diselimuti kain kafan berwarna putih. Peristiwa ini menjadi salah satu serangan paling mematikan yang menimpa warga sipil dalam beberapa waktu terakhir.

Saksi Mata Mengisahkan Kekejaman Serangan

Abu Yusuf al-Masri, ayah dari Firas, mengungkapkan bahwa ledakan terjadi tepat ketika semua anggota keluarga berada di dalam rumah. Ia menyampaikan kesedihannya melalui pernyataan berikut:

Kami tidak dapat menyelamatkan cucu dan anak-anak kami dari kobaran api dan kehancuran. Sekitar lima atau enam orang gugur, sebagian besar anak-anak dan perempuan, tanpa ampun dan tanpa peringatan sebelumnya.

Lebih lanjut, Abu Yusuf menambahkan bahwa suasana tidak tenang sama sekali dan tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi warga Gaza. Ia juga menyebutkan bahwa serangan ini terjadi tanpa peringatan apapun, membuat keluarga tersebut tidak sempat menyelamatkan diri. Keempat anak-anak yang tewas dalam serangan ini masih berusia sangat muda, menambah duka yang mendalam bagi keluarga besar mereka.

Konteks Serangan dan Gencatan Senjata

Militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan di lokasi tersebut. Pihak Israel menyatakan bahwa target serangan adalah anggota Hamas, namun penyelidikan terhadap hasil operasi masih berlangsung. Peristiwa ini menambah deretan korban warga Palestina sejak gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat disepakati lebih dari sembilan bulan lalu.

Data menunjukkan lebih dari 1.150 warga Palestina telah tewas dalam berbagai serangan Israel sejak kesepakatan tersebut berlaku. Mayoritas korban merupakan warga sipil. Meskipun gencatan senjata berhasil menghentikan pertempuran berskala besar, serangan Israel dilaporkan masih terjadi hampir setiap hari di berbagai wilayah Gaza. Serangan-serangan ini terus menimpa hunian-hunian warga, termasuk yang terjadi pada keluarga al-Masri.

Beberapa negara mediator, termasuk Mesir, Qatar, Turkiye, dan Amerika Serikat, terus mendorong rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Gaza. Rencana tersebut mencakup dua poin utama: pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel. Namun, hingga saat ini belum ada kemajuan signifikan dalam proses tersebut. Banyak pihak khawatir bahwa tanpa solusi jangka panjang, serangan Israel di Gaza akan terus menewaskan warga sipil.

Ekspos PBB terhadap Pelanggaran Hukum Humaniter

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam berlanjutnya serangan Israel di Gaza. Thameen Al-Kheetan, juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB, menyampaikan bahwa warga Palestina masih menghadapi ancaman serangan meskipun gencatan senjata telah diumumkan sembilan bulan sebelumnya.

Sembilan bulan setelah pengumuman gencatan senjata, masih belum ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza.

Menurut Al-Kheetan, periode 13-20 Juli 2026 mencatat sedikitnya 57 warga Palestina tewas akibat serangan Israel. Angka tersebut mencakup enam anak-anak dan delapan perempuan. Perlu dicatat bahwa jumlah ini belum termasuk enam anggota keluarga al-Masri yang tewas dalam serangan di Sabra. Al-Kheetan menekankan bahwa pembunuhan warga sipil dalam serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan terus berlanjutnya pelanggaran hukum humaniter internasional, kejahatan perang, dan kemungkinan kejahatan kekejaman lainnya di Gaza. Ia menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional, menyerang warga sipil secara sengaja merupakan kejahatan perang.

Keempat anak-anak yang tewas dalam serangan ini menjadi simbol dari penderitaan rakyat Gaza yang terus berlanjut. Keluarga al-Masri bukan satu-satunya korban, namun tragedi mereka menyoroti betapa rapuhnya kehidupan warga sipil di tengah konflik yang berkepanjangan. Dunia internasional kini semakin mendesak agar serangan Israel di Gaza dapat dihentikan sepenuhnya untuk menyelamatkan nyawa-nyawa yang tidak bersalah.

Join the discussion