Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Siswa Asal Inggris Gagal Naik Pesawat dan Terdampar Selama 6 Minggu di Roma, Apa Alasannya?

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

Seorang gadis remaja dari Inggris mengalami keterlambatan perjalanan yang cukup panjang setelah tidak berhasil menaiki pesawat menuju negaranya. Ia harus

Siswa Asal Inggris Gagal Naik Pesawat dan Terdampar Selama 6 Minggu di Roma, Apa Alasannya?

Remaja Inggris Terjebak di Roma Selama Enam Minggu Akibat Aturan Baru

Lenterafakta.com – Seorang gadis remaja dari Inggris mengalami keterlambatan perjalanan yang cukup panjang setelah tidak berhasil menaiki pesawat menuju negaranya. Ia harus menunggu selama enam minggu di kota Roma, Italia, sebelum akhirnya bisa pulang. Situasi ini bermula saat ia sedang berlibur di rumah neneknya dan bersiap kembali ke Inggris untuk melanjutkan studi di sekolah.

Masalah muncul ketika ia tiba di bandara dan dicegat petugas. Penyebab utamanya adalah kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri Inggris atau yang dikenal sebagai Home Office. Berdasarkan aturan ini, setiap warga negara ganda yang ingin kembali ke Inggris wajib menunjukkan paspor Inggris sebagai syarat utama. Remaja tersebut ternyata termasuk dalam kategori warga negara ganda.

Perubahan Regulasi yang Menyulitkan

Sebelum adanya perubahan regulasi, anak-anak yang lahir di luar negeri dari orang tua berkewarganegaraan Inggris atau yang memiliki status kewarganegaraan ganda dapat masuk ke Inggris tanpa perlu membuat paspor Inggris terlebih dahulu. Namun, dengan aturan baru ini, mereka yang tidak membawa paspor Inggris berisiko mengalami penolakan saat ingin menaiki berbagai moda transportasi, termasuk pesawat, kereta api, dan kapal feri.

Syarat yang berlaku mencakup paspor yang masih aktif maupun yang sudah kedaluwarsa, asalkan dilengkapi dengan certificate of entitlement atau surat keterangan hak istimewa. Kedua dokumen ini menjadi bukti valid kewarganegaraan Inggris bagi pemiliknya.

Respons Ayah dan Upaya Pemecahan Masalah

Rowan Somerville, ayah dari remaja tersebut, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah. Ia menilai bahwa aturan yang dibuat sendiri tidak disertai dengan sosialisasi yang memadai kepada masyarakat. Bahkan di platform media sosial, informasi mengenai perubahan ini jarang sekali disampaikan kepada publik yang terdampak.

“Kedutaan, home office, dan Kementerian Luar Negeri saling melempar tanggung jawab. Masa depan orang-orang dan pendidikan seorang anak dipermainkan. Ini sungguh menyebalkan,” kata Somerville, dikutip dari laman Guardian pada Rabu (15/7/2026).

Pihak kementerian terkait awalnya menolak menerbitkan paspor darurat bagi putrinya dengan alasan remaja tersebut memang belum pernah memiliki paspor Inggris sebelumnya. Sekolah tempat ia bersekolah kemudian mengirimkan surat resmi kepada kementerian yang bersangkutan untuk meminta intervensi. Dalam surat tersebut, pihak sekolah menyatakan kekhawatiran semakin meningkat karena siswi tersebut semakin lama tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Upaya ini mendapat dukungan tambahan dari Anggota Parlemen setempat, Joe Powell. Setelah berbagai proses, pemerintah akhirnya menerbitkan emergency travel document atau dokumen perjalanan darurat bagi remaja tersebut, sehingga ia bisa kembali ke Inggris.

Birokrasi yang Masih Berbelit

Setelah putrinya berhasil pulang, Somerville menjelaskan bahwa anaknya masih harus menjalani proses selama tiga bulan untuk mengurus paspor Inggris. Padahal, menurut situs resmi pemerintah, proses tersebut seharusnya hanya memakan waktu sekitar tiga minggu. Ia menilai ini merupakan bentuk birokrasi yang berbelit-belit dan pemanfaatan sumber daya manusia yang sama sekali tidak efektif.

“Harusnya mereka fokus pada kasus-kasus riil yang membutuhkan penanganan serius. Staf garda depan sangat ramah, tapi bukan salah mereka jika mereka tidak punya wewenang untuk bertindak,” keluhnya.

Kasus Serupa yang Pernah Terjadi

Kasus serupa sebelumnya juga menimpa seorang siswi Inggris berusia 16 tahun yang terdampar di Denmark setelah tidak diizinkan naik pesawat menuju London akibat aturan perbatasan baru Inggris bagi warga negara ganda. Hanne, siswi asal Sussex, ditolak naik pesawat pada 8 Maret setelah menghabiskan akhir pekan bersama ayahnya yang berkewarganegaraan Inggris. Ayahnya merupakan seorang akademisi yang sedang menjalankan tugas singkat di sebuah universitas di Kopenhagen.

Sebelumnya lagi, seorang mahasiswi berusia 19 tahun bernama Anna, asal Oxfordshire, juga sempat terjebak di Madrid setelah mengikuti perjalanan yang diselenggarakan universitasnya ke ibu kota Spanyol tersebut. Ada juga beberapa kasus lain terjadi, akibat kurangnya sosialisasi aturan baru ini. Mereka beralasan informasi mengenai kebijakan itu telah dipublikasikan melalui situs resmi pemerintah, gov.uk.

Pihak pemerintah menegaskan bahwa sejak Februari 2026, seluruh warga negara ganda Inggris wajib menunjukkan paspor Inggris yang berlaku atau surat keterangan hak istimewa saat bepergian ke Inggris. Tanpa dokumen tersebut, pihak penyedia jasa transportasi tidak dapat memverifikasi kewarganegaraan Inggris penumpang, yang berisiko memicu penundaan atau penolakan naik armada.

Join the discussion