Special Plan: Iran Ancam Selat Hormuz Tetap Ditutup hingga AS Hentikan Serangan, IRGC Bidik Jalur Minyak Lain
Iran Umumkan Rencana Khusus: Selat Hormuz Akan Tetap Ditutup Hingga AS Berhenti Serang Special Plan menjadi fokus utama pihak Iran dalam pernyataan terbaru
Iran Umumkan Rencana Khusus: Selat Hormuz Akan Tetap Ditutup Hingga AS Berhenti Serang
Special Plan menjadi fokus utama pihak Iran dalam pernyataan terbaru mereka. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam untuk terus menutup Selat Hormuz hingga Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan di wilayah tersebut. Pernyataan ini dikeluarkan setelah perang antara Iran dan AS memanas sejak akhir Februari 2026, dengan IRGC menyatakan keputusan penutupan jalur tersebut sebagai bagian dari Special Plan yang telah direncanakan sejak awal konflik.
Motif Serangan dan Tindakan Balasan
Konflik antara AS dan Iran telah mengganggu alur distribusi energi global. Selat Hormuz, yang merupakan jalur kritis pengiriman minyak dan gas ke pasar internasional, menjadi sasaran utama tindakan agresif dari kedua belah pihak. IRGC melakukan serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan-serangan yang dilancarkan Washington. Special Plan juga memperkuat kebijakan Iran untuk menutup jalur ekspor alternatif, yang sebelumnya menjadi ancaman strategis terhadap pasokan energi global.
“Musuh harus menyadari bahwa setelah kapal perampok maritim mereka menghalangi distribusi energi ke dunia, mereka juga siap mengunci jalur ekspor lain yang menguntungkan sekutu AS,” kata IRGC dalam pernyataan yang disiarkan melalui IRIB. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Special Plan bukan hanya tindakan defensif, tetapi juga upaya untuk memperkuat posisi Iran di tengah tekanan politik dan militer dari AS.
IRGC belum merinci jalur mana yang akan ditutup, tetapi menyatakan bahwa ekspor minyak dari wilayah tersebut bisa terganggu sepenuhnya. Dalam pernyataan terpisah, mereka menegaskan bahwa operasi militer akan berlangsung hingga AS memutuskan berhenti menyerang. Special Plan ini mencerminkan strategi Iran untuk menutup semua kemungkinan ekspor minyak melalui jalur utama, sekaligus menekan AS dalam negosiasi perdamaian.
Ekspansi Strategi dan Dampak Ekonomi
Konflik yang memanas sejak 28 Februari 2026 memaksa Iran untuk memperluas Special Plan ke wilayah lain. Setelah AS kembali menerapkan blokade pelabuhan Iran, Teheran memperkuat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi perairan Oman, wilayah yang diawasi oleh militer AS tetapi tidak dalam kendali Teheran. Tindakan ini meningkatkan ketegangan dan memperburuk kondisi ekonomi global, karena penutupan Selat Hormuz mengakibatkan kenaikan harga minyak serta gangguan pasokan bahan bakar industri.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengkritik serangan AS yang disebutnya sebagai bentuk dominasi politik. “AS adalah pelaku agresi, bukan korban,” tulis Iravani dalam surat yang dilansir dari The New Indian Express. Special Plan ini memperjelas bahwa Iran bersiap untuk menutup jalur ekspor lain sebagai bagian dari upaya mereka menekan AS, termasuk negosiasi program nuklir yang sebelumnya diusung sebagai jalan keluar konflik.
Meski demikian, tindakan diplomatik AS mempercepat perang dagang dengan menyumbangkan tambahan 19 kapal perang ke Laut Arab, termasuk dua kapal induk dan satu kapal serbu amfibi. Dengan lebih dari 1.000 personel Marinir, angkatan laut AS memperkuat kontrol di wilayah Timur Tengah, yang menjadi pusat perhatian dalam Special Plan Iran. Penggunaan kekuatan militer ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan keselamatan kapal-kapal perdagangan.
Selat Hormuz menjadi sasaran utama Special Plan Iran karena pentingnya posisi geografisnya. Dengan menutup jalur kritis ini, Iran berupaya mempercepat tekanan terhadap AS dan sekutunya. Namun, keputusan tersebut juga menimbulkan ancaman terhadap pasokan minyak ke Eropa, Asia, dan Amerika Utara, yang bergantung pada jalur laut tersebut. Special Plan ini menggambarkan taktik politik dan militer yang konsisten, dengan harapan AS akan mempercepat gencatan senjata sementara.
