Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Special Plan: Mengapa B50 Bisa Tak Cocok buat Kendaraan Lawas? Ini Kata Pakar

Joseph Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Tidak Cocok untuk Kendaraan Lama, Ini Penjelasan Pakar Special Plan - Dalam Special Plan yang resmi diluncurkan pada 1 Juli 2026, biodiesel B50 menjadi bahan

Special Plan: Mengapa B50 Bisa Tak Cocok buat Kendaraan Lawas? Ini Kata Pakar

Special Plan: B50 Tidak Cocok untuk Kendaraan Lama, Ini Penjelasan Pakar

Special Plan – Dalam Special Plan yang resmi diluncurkan pada 1 Juli 2026, biodiesel B50 menjadi bahan bakar yang diklaim lebih ramah lingkungan. Namun, program ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kompatibilitasnya dengan kendaraan lama, terutama mobil diesel generasi dulu. B50 menggabungkan 50 persen bahan bakar nabati dengan 50 persen solar, sehingga perlu penyesuaian yang lebih dari sistem mesin yang tidak dirancang untuk bahan bakar campuran ini.

Kelanjutan dari Program Biodiesel Nasional

Program B50 merupakan tahap lanjutan dari penggunaan biodiesel wajib nasional, yang sebelumnya melalui B5, B20, B30, hingga B40. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa B50 dirancang untuk mengurangi ketergantungan impor solar dan memperkuat energi terbarukan. Namun, penyesuaian konsistensi bahan bakar ini menjadi lebih kompleks, terutama bagi mobil yang dirancang dengan standar bahan bakar berbeda.

Perbedaan Kimia B50 dan Solar Murni

Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wahyudi, menjelaskan bahwa sifat kimiawi B50 berbeda dari solar murni. Viskositas yang lebih tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam proses pengabutan, sementara kepadatan energi yang rendah memengaruhi respons mesin. “Dalam Special Plan, konsistensi mutu B50 sangat penting, karena mesin lama mungkin tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan ini,” katanya saat dihubungi Kompas.com pada Senin (20/6/2026).

“Kalau untuk mobil periode keluaran tahun sama, itu yang kurang cocok,” ujar Wahyudi. Ia menegaskan bahwa komponen seperti karet dan seal dalam mesin lama rentan rusak karena sifat agresif B50. Selain itu, penurunan kualitas bahan bakar bisa mempercepat endapan di sistem bahan bakar, yang berpotensi mengganggu performa kendaraan.

Pakar juga mengingatkan bahwa penggunaan B50 dalam Special Plan membutuhkan pemeriksaan rutin. Pemilik kendaraan tua dianjurkan untuk mengganti filter bahan bakar lebih sering dan memastikan mutu bahan bakar tetap terjaga. Wahyudi menekankan bahwa langkah ini bisa meminimalkan risiko pada mesin lama, meski secara teknis perlu penyesuaian.

Respon dari Pengguna dan Industri

Pengguna mobil lama mulai memperhatikan dampak dari Special Plan. Beberapa pengemudi melaporkan penurunan tenaga mesin dan masalah pengisian bahan bakar. Di sisi lain, industri otomotif dan energi memberikan dukungan untuk transisi ke bahan bakar berkelanjutan. Namun, keberhasilan program ini tergantung pada komitmen penggunaan B50 yang konsisten dan penyesuaian teknis di level pabrikan.

Potensi Dampak Jangka Panjang

Meski Special Plan menawarkan keuntungan dalam mengurangi emisi karbon, kelebihan viskositas B50 bisa menyebabkan efisiensi mesin menurun. Wahyudi menambahkan bahwa mesin lama mungkin membutuhkan perawatan ekstra, seperti pembersihan injektor atau penyesuaian katup, untuk menjaga kinerja. Selain itu, penggunaan B50 secara massal memerlukan perubahan pada infrastruktur bahan bakar, seperti penyediaan bahan bakar berkualitas tinggi.

Dalam jangka panjang, Special Plan diharapkan mendorong penggunaan energi terbarukan dan mengurangi impor. Namun, transisi ini perlu waktu dan adaptasi yang baik. Wahyudi menyatakan bahwa keberhasilan program B50 bergantung pada kualitas bahan bakar dan kesadaran pemilik kendaraan lama. Jika dipenuhi, B50 bisa menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Join the discussion