Studi 25 Tahun: Anak yang Sering Minum Minuman Manis Berisiko Hipertensi Saat Dewasa
Studi 25 Tahun yang dilakukan oleh para peneliti terkemuka mengungkap temuan penting mengenai kebiasaan minum pada anak-anak. Penelitian jangka panjang ini
Studi 25 Tahun: Dampak Minuman Manis pada Kesehatan Anak
Lenterafakta.com – Studi 25 Tahun yang dilakukan oleh para peneliti terkemuka mengungkap temuan penting mengenai kebiasaan minum pada anak-anak. Penelitian jangka panjang ini melacak lebih dari 25.000 partisipan sejak mereka berusia 12 tahun hingga pertengahan usia 30-an. Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang sering mengonsumsi minuman manis memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi saat dewasa. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Circulation milik American Heart Association (AHA) dan menjadi perhatian serius bagi para orang tua.
Menurut data yang dikumpulkan, partisipan yang meminum dua atau lebih porsi minuman berpemanis gula per hari—dengan ukuran 12 ons per porsi—mengalami peningkatan risiko hipertensi sebesar 52 persen. Angka ini dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi kurang dari tiga porsi minuman manis dalam seminggu. Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa jus buah kemasan memiliki keterkaitan risiko yang serupa dengan soda atau minuman manis lainnya dalam memicu tekanan darah tinggi.
Mekanisme Biologis di Balik Risiko Hipertensi
Peneliti senior studi tersebut, Vasanti Malik, ScD, dari University of Toronto, menjelaskan bahwa bentuk penyajian fruktosa lebih menentukan daripada jumlah totalnya. "Pola makan pada usia dini dapat memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang," ujar Vasanti Malik, yang juga menjabat sebagai Associate Professor dan Canada Research Chair dalam bidang nutrisi dan pencegahan penyakit kronis. Ia menambahkan bahwa buah utuh tidak menunjukkan dampak negatif meskipun mengandung gula alami.
"Pola makan pada usia dini dapat memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang," – Vasanti Malik, ScD, University of Toronto
Secara fisiologis, perbedaan ini terjadi karena buah utuh mengandung serat, air, dan struktur sel yang memperlambat penyerapan fruktosa dalam tubuh. Sebaliknya, jus buah menyajikan beban gula tanpa struktur serat dan biasanya dikonsumsi dalam dosis yang lebih besar dan cepat. Kalori dalam bentuk cair juga cenderung kurang memicu rasa kenyang dibandingkan makanan padat, sehingga orang cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori tanpa merasa puas.
Analisis substitusi dalam studi ini menunjukkan bahwa mengganti satu porsi minuman manis harian dengan buah utuh, susu, atau air putih berkaitan dengan penurunan risiko tekanan darah tinggi. Langkah serupa juga terlihat saat mengganti jus buah dengan buah utuh. Para peneliti mengukur asupan makanan dan minuman yang mengandung fruktosa secara berkala serta mencatat siapa saja yang akhirnya terkena hipertensi selama periode pengamatan.
Perlu dicatat bahwa penelitian ini bersifat studi observasional prospektif. Artinya, penelitian ini hanya menunjukkan adanya pola keterkaitan antara kebiasaan minum dengan diagnosis di kemudian hari, namun belum dapat membuktikan secara langsung bahwa minuman tersebut merupakan penyebab pasti dari hipertensi. Panduan Diet AHA tahun 2026 merekomendasikan untuk meminimalkan konsumsi gula tambahan pada makanan dan minuman.
Untuk penerapan sehari-hari di rumah, para ahli menyarankan agar orang tua memperhatikan jenis minuman yang diberikan kepada anak. Orang tua yang memiliki kekhawatiran terkait tekanan darah, berat badan, atau pola makan anak sebaiknya berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis anak sebelum melakukan perubahan diet yang signifikan. Dengan kesadaran yang lebih baik, kita dapat membantu generasi muda membangun kebiasaan sehat sejak dini.
