Topics Covered: Belajar dari Kasus Perempuan Disekap di Bandung, Apa 8 Tanda Pasangan Red Flag?
n Disekap di Bandung, Apa 8 Tanda Pasangan Red Flag? Topics Covered - Kasus penyekapan yang diduga melibatkan penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR
Belajar dari Kasus Perempuan Disekap di Bandung, Apa 8 Tanda Pasangan Red Flag?
Topics Covered – Kasus penyekapan yang diduga melibatkan penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR di Bandung kini memicu perhatian masyarakat. Ia menghabiskan tiga tahun dalam kondisi terkurung, kehilangan pekerjaan, hartanya, serta mengalami kerusakan pada kedua mata dan berbagai luka di tubuh akibat kekerasan oleh pelaku. “Pertama kali bertemu, dia terlihat baik-baik saja, tapi setelah sekitar satu minggu atau bulan, mata saya mulai rusak,” ujar YTR, sebagaimana dilaporkan Tribun Trends pada Senin (22/6/2026).
Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Tahun 2025
Menurut data Komnas Perempuan yang dikutip pada (6/3/2026), terdapat 376.529 laporan kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2025. Kekerasan seksual menjadi bentuk terbanyak dengan 37,51 persen, diikuti kekerasan psikis sebesar 32,48 persen, fisik 18,93 persen, dan ekonomi 11,07 persen. Psikolog dari Universitas Brawijaya, Ari Pratiwi, mengingatkan bahwa kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan.
Perkembangan Hubungan yang Perlu Diwaspadai
Ari menekankan bahwa dalam hubungan asmara, gejala kekerasan dan tanda red flag sering kali tak terlihat sejak awal. “Semua terasa indah saat tahap awal,” katanya saat diwawancara pada Rabu (24/6/2026). Namun, jika kita menerapkan rasionalitas, tanda-tanda buruk bisa terdeteksi lebih dini.
Red Flag 1: Kontrol Berlebihan
Kontrol berlebihan menjadi salah satu tanda peringatan awal. Awalnya, perhatian berlebihan dari pasangan bisa memberi rasa nyaman, tetapi jika terus berlanjut, akan berubah menjadi pengendalian. “Mereka mengatakan perhatian, padahal tujuannya mengontrol. Contohnya menanyakan ke mana pasangan pergi, siapa yang diajak, hingga mengatur konten media sosial yang diunggah,” jelas Ari.
Red Flag 2: Tidak Ada Batasan
Ari mengingatkan bahwa setiap individu perlu ruang pribadi untuk berkembang. Jika pasangan merasa wajib mengintervensi kehidupan pribadi kekasihnya, itu mencerminkan pola hubungan yang tidak sehat. “Tidak perlu memaksa pasangan mengikuti aturan yang sama, terutama jika itu mengganggu kebebasan mereka,” katanya.
Red Flag 3: Hubungan Berkembang Terlalu Cepat
Hubungan yang berkembang terlalu cepat sering mengarah pada ketergantungan emosional. “Beberapa orang menggiring pasangan untuk merasa bahwa dia adalah satu-satunya yang berharga, bahkan dengan cara menekan atau membanggakan diri,” tambah Ari. Sikap ingin dianggap sebagai pahlawan dalam hubungan juga menjadi indikator potensi kekerasan.
Red Flag 4: Perilaku Manipulatif
Kisah yang dibuat untuk menyalahkan pihak lain dan menganggap diri sebagai korban adalah bentuk manipulasi. “Pelaku suka menyusun narasi agar kekasihnya merasa salah, sementara mereka justru menjadi penjahat,” ujar Ari. Cara ini sering disebarkan ke orang terdekat pasangan untuk memperkuat dominasi.
Red Flag 5: Perundungan pada Pasangan
Perundungan bisa terjadi melalui candaan atau komentar merendahkan. “Mereka merasa puas saat kekasihnya dilaknat, bahkan jika itu hanya bercanda. Mereka menolak tuduhan dan menganggap kekerasan sebagai bagian dari cinta,” papar Ari. Contoh seperti menghina penampilan atau kecerdasan pasangan juga termasuk dalam red flag.
Red Flag 6: Cemburu Berlebihan
Cemburu memang wajar dalam hubungan, tetapi jika berlebihan bisa berubah menjadi toksik. “Pasangan yang terus menuduh tanpa alasan, menginterogasi, atau ikut campur urusan pribadi kekasihnya menggambarkan sikap tidak seimbang,” kata Ari. Hal ini sering diiringi keinginan untuk menguasai kehidupan pasangan.
Red Flag 7: Temperamen Tidak Stabil
Kebiasaan menunjukkan emosi yang tidak terkendali juga perlu diwaspadai. YTR menyebut pelaku memiliki temperamen tinggi, sehingga jika keinginannya tidak dipenuhi, ia bisa melakukan kekerasan. “Ini mencerminkan sifat mudah marah dan tidak mampu mengelola emosi,” ujar Ari.
Red Flag 8: Tidak Ada Batasan pada Perilaku
Dalam kasus YTR, pelaku tak hanya mengontrol kehidupan fisik, tetapi juga menekan perilaku kekasihnya. “Mereka tidak membiarkan pasangan mengambil keputusan sendiri, bahkan merasa berhak mengatur segala aspek,” kata Ari. Pola ini bisa memicu ketergantungan dan merusak kemandirian pasangan.
Menurut Ari, pengenalan tanda-tanda red flag dari awal bisa mencegah kekerasan sebelum terjadi. “Kita harus waspada sejak awal hubungan, karena banyak kasus dimulai dari kecil dan berkembang menjadi lebih parah,” pungkasnya.
