Topics Covered: Psikolog Ungkap Perbedaan Otak Anak yang Gemar Membaca Buku dan Main Gadget, Apa Itu?
Otak Anak yang Suka Membaca dan Bermain Gadget: Psikolog Ungkap Topics Covered : Psikolog mengeksplorasi perbedaan aktivitas otak anak yang lebih memilih
Perbedaan Otak Anak yang Suka Membaca dan Bermain Gadget: Psikolog Ungkap
Topics Covered: Psikolog mengeksplorasi perbedaan aktivitas otak anak yang lebih memilih membaca buku fisik dibandingkan bermain gadget. Topik-topik yang dibahas dalam artikel ini meliputi dampak bermain gadget terhadap perkembangan otak, serta perbandingan antara kebiasaan membaca buku dan menatap layar. Selain itu, penulis juga menyajikan rekomendasi untuk menyeimbangkan kedua kegiatan ini.
Perbedaan Aktivasi Otak dalam Aktivitas Berbeda
Menurut Ratna Yunita Setiyani Subardjo, psikolog dari Universitas Aisyiyah Yogyakarta, aktivitas membaca buku fisik dan bermain gadget memberikan stimulasi berbeda pada otak anak. “Dalam membaca buku, otak anak mengalami aktivasi yang lebih teratur dan menyeluruh di berbagai area, sementara bermain gadget lebih berfokus pada bagian otak yang terkait visual dan reaksi cepat,” terang Ratna saat diwawancara Kompas.com, Minggu 19 Juli 2026.
“Membaca buku juga mengaktifkan saraf yang terkait empati dan pengambilan kesimpulan, sedangkan layar cenderung mengurangi kemampuan anak dalam memahami konteks secara mendalam,” kata Ratna.
Studi menggunakan teknologi fNIRS menunjukkan bahwa anak-anak yang dibacakan cerita oleh orang tua menunjukkan respons otak lebih intensif di bagian temporal parietal kanan, area yang berkaitan dengan kemampuan sosial dan perhatian.
Dampak Bermain Gadget pada Perkembangan Kognitif dan Sosial
Topik-topik yang dibahas menunjukkan bahwa kebiasaan bermain gadget berpotensi mengurangi kualitas pemahaman dan daya ingat anak. Menurut Ratna, aktivitas ini juga memengaruhi kemampuan anak dalam mengarahkan perhatian secara efektif. “Anak prasekolah yang terbiasa menonton layar berjam-jam lebih rentan mengalami perhatian terpecah, mirip dengan gejala ADHD,” jelasnya.
“Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menghambat kemampuan anak untuk memproses informasi secara kritis dan merangsang imajinasi,” tambah Ratna.
Selain itu, bermain gadget cenderung mengurangi interaksi sosial yang memperkaya empati, sementara membaca buku fisik meningkatkan kemampuan anak dalam mengekspresikan perasaan dan memahami orang lain.
Topik-topik yang dibahas juga menyoroti perbedaan dalam aspek bahasa dan kontrol kognitif. Anak yang lebih sering membaca buku menunjukkan struktur saraf yang lebih kuat di area bahasa, memungkinkan mereka menguasai kosakata dan kemampuan analitis lebih baik. Sebaliknya, aktivitas di layar sering kali terkait dengan pemrosesan informasi yang lebih cepat tetapi lebih dangkal, terutama dalam konteks pembelajaran.
Rekomendasi untuk Menjaga Keseimbangan
Ratna menekankan bahwa penggunaan gadget perlu disesuaikan dengan usia anak. “Untuk usia 0-18 bulan, penggunaan layar sebaiknya dibatasi hanya untuk panggilan video dengan orang tua atau keluarga,” katanya. Topik-topik yang dibahas menambahkan bahwa waktu tidur dan aktivitas fisik tetap harus diprioritaskan, terlepas dari penggunaan gadget.
“Selama anak usia 6 tahun ke atas, kita bisa memberikan batasan waktu layar, tetapi kualitas konten dan cara penggunaannya jauh lebih penting daripada durasi,” tambah Ratna.
Menurut penelitiannya, 30 menit baca buku bersama orang tua lebih bermanfaat daripada dua jam menonton konten pasif. Topik-topik yang dibahas juga menyebutkan bahwa kegiatan membangun kebiasaan baik sejak dini sangat krusial untuk perkembangan otak yang sehat.
Kontribusi Membaca Buku terhadap Pemrosesan Informasi
Topik-topik yang dibahas membuktikan bahwa membaca buku fisik memberikan manfaat multidimensi. Selain meningkatkan kemampuan kognitif, kegiatan ini juga mengasah kemampuan berbahasa dan keterampilan sosial anak. “Membaca secara langsung dengan orang dewasa melatih anak dalam mengungkapkan pikiran, mengingat detail, dan berpikir secara sistematis,” jelas Ratna.
Dalam konteks pendidikan, topik-topik yang dibahas menunjukkan bahwa anak yang terbiasa membaca cenderung menyelesaikan tugas belajar lebih baik dan memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. “Aktivitas membaca membangun hubungan antara otak kiri dan kanan secara harmonis, yang penting untuk pengambilan keputusan dan pemecahan masalah,” tambahnya.
Manfaat Jangka Panjang dari Kebiasaan Membaca
Topik-topik yang dibahas juga menyoroti manfaat jangka panjang dari kebiasaan membaca buku fisik. Anak-anak yang sering membaca lebih mungkin memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih tajam, serta kemampuan menulis yang lebih baik. “Ini karena proses membaca melibatkan penggunaan otak secara menyeluruh, dari visual, auditori, hingga motorik,” jelas Ratna.
“Bermain gadget, meskipun memiliki keuntungan dalam penguasaan visual dan reaksi cepat, tidak sepenuhnya menggantikan manfaat membaca buku yang lebih holistik,” kata Ratna.
Dengan menyeimbangkan kedua aktivitas, orang tua dapat membantu anak berkembang secara optimal dalam berbagai aspek perkembangan otak.
