Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Trump Ancam Iran: Serang Kapal di Selat Hormuz, Satu Jembatan atau Pembangkit Listrik Akan Hancur

Jennifer Thomas - lenterafakta.com 3 mins read

Presiden Donald Trump kembali mengancam Iran dengan pernyataan tegas melalui Truth Social pada Kamis (23/7/2026). Jika Teheran menyerang kapal-kapal yang

Trump Ancam Iran: Serang Kapal di Selat Hormuz, Satu Jembatan atau Pembangkit Listrik Akan Hancur

Trump Ancam Iran: Serang Kapal di Selat Hormuz

Lenterafakta.com – Presiden Donald Trump kembali mengancam Iran dengan pernyataan tegas melalui Truth Social pada Kamis (23/7/2026). Jika Teheran menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, Amerika Serikat akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran. Ancaman ini menjadi bagian dari eskalasi militer yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.

Menurut pernyataan Trump yang dikutip AP News, sasaran serangan tidak terbatas pada wilayah tertentu. Lokasi yang berada “di dekat atau di dalam” ibu kota Teheran juga berpotensi menjadi target. Respons militer ini akan diterapkan untuk setiap jenis serangan, termasuk penggunaan rudal, roket, drone, maupun senjata lainnya.

“Mulai sekarang, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik itu dengan rudal, roket, drone, atau perangkat atau senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik,” tulis Trump.

Eskalasi Militer dan Respons Regional

Pernyataan ini muncul di tengah serangan militer AS yang telah berlangsung selama sebelas malam berturut-turut terhadap Iran. Sementara itu, pemerintah Iran mengaktifkan sistem pertahanan udara di Teheran dan memperingatkan Washington agar tidak menyerang fasilitas nuklirnya.

Laporan menunjukkan adanya ledakan di berbagai wilayah Iran. Tabriz di barat laut, Chabahar dan Konarak di tenggara, serta Bushehr di selatan menjadi lokasi yang terdampak. Bushehr merupakan tempat berdirinya satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir milik negara tersebut.

Di kawasan Teluk Persia, respons terhadap serangan Iran juga terlihat. Militer Kuwait pada Rabu (22/7/2026) melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat pesawat nirawak yang diluncurkan dari Iran. Bahrain dan Yordania juga mengklaim telah menggagalkan serangan drone dan rudal.

Posisi Diplomasi dan Ancaman Houthi

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan komitmen Washington untuk melindungi kapal-kapal di Selat Hormuz. Rubio menyatakan bahwa AS akan membela kapal-kapal tersebut agar tidak menjadi sasaran ledakan. Namun, ia juga menekankan bahwa jalur diplomasi masih terbuka untuk penyelesaian konflik.

BBC melaporkan bahwa Rubio menilai Iran belum menunjukkan keseriusan dalam bernegosiasi. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa eskalasi konflik akan berdampak besar terhadap keamanan kawasan dan perdagangan energi global.

“Di wilayah di mana kita tidak menjual minyak, tidak ada yang menjual minyak. Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman, dan keamanan selat tersebut juga tidak akan terjamin tanpa kehadiran pasukan Amerika,” ujar Ghalibaf.

Ghalibaf menambahkan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Ia juga menegaskan bahwa jika Iran tidak dapat mengekspor minyak, negara lain juga akan mengalami hal serupa.

Target Militer dan Dampak Ekonomi

Sebelumnya, Trump menyebutkan bahwa kompleks Pickaxe Mountain dapat menjadi target militer berikutnya. Fasilitas nuklir bawah tanah ini diduga digunakan Iran untuk membangun lokasi pengayaan uranium yang belum diumumkan secara publik.

Ancaman lain juga ditujukan kepada kelompok Houthi di Yaman. Trump menyatakan akan “mengurus” kelompok yang didukung Iran tersebut jika benar-benar melaksanakan ancaman memblokade pelabuhan Arab Saudi. Seorang pejabat media Houthi sebelumnya menyatakan bahwa Selat Bab al-Mandab, pintu masuk selatan Laut Merah, telah ditutup bagi kapal-kapal Arab Saudi.

Penutupan ini dinilai berpotensi memperburuk gangguan terhadap jalur pelayaran internasional. Laut Merah merupakan rute penting bagi ekspor minyak Arab Saudi sejak konflik AS-Israel dengan Iran menyebabkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Setelah pengumuman Houthi, dua kapal tanker yang baru memuat minyak mentah Arab Saudi untuk dikirim ke China dan India dilaporkan membatalkan rute melalui Laut Merah.

Menurut perusahaan manajemen risiko maritim Inggris, Vanguard, kedua kapal tersebut berbalik arah dari Pelabuhan Yanbu dan memilih berlayar melalui Terusan Suez. Ancaman Houthi diperkirakan akan semakin mengganggu rantai pasok global dan memperbesar volatilitas harga energi di pasar internasional.

Hingga kini, perang Iran diperkirakan telah menghabiskan sekitar 37,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 671,25 triliun dengan kurs Rp 17.900 per dollar AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa angka tersebut meningkat hampir 8 miliar dollar AS dibandingkan estimasi pada Mei lalu dan diperkirakan masih akan terus bertambah apabila konflik berlanjut.

Join the discussion