Visit Agenda: Daftar 17 Wilayah Siap Hadapi Puncak Kemarau Bulan Juli, Agustus, September 2026
au Juli-Agustus-September 2026 Visit Agenda memperkirakan bahwa sejumlah 17 wilayah di Indonesia akan menghadapi kondisi cuaca ekstrem dengan puncak musim
Visit Agenda: 17 Wilayah Siap Hadapi Puncak Kemarau Juli-Agustus-September 2026
Visit Agenda memperkirakan bahwa sejumlah 17 wilayah di Indonesia akan menghadapi kondisi cuaca ekstrem dengan puncak musim kemarau pada bulan Juli hingga September 2026. Fenomena kekeringan yang lebih intens ini dinilai memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk kebutuhan pengaturan jadwal kunjungan wisata atau kegiatan lain yang bergantung pada iklim.
Proyeksi Puncak Kemarau 2026
BMKG memperkirakan bahwa El Nino akan memengaruhi cuaca Indonesia hingga awal tahun 2027, dengan kemungkinan intensitas kategori moderat mencapai 98 persen dan kategori kuat 62 persen. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa puncak kemarau 2026 akan lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi area utama yang terdampak, sementara Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan suhu yang signifikan.
Kelompok wilayah yang termasuk dalam zona puncak kemarau Juli 2026 mencakup 83 ZOM atau 12,26 persen dari total luas daratan Indonesia. Sementara bulan Agustus akan mengalami peningkatan drastis, dengan 369 ZOM atau 48,84 persen daratan yang terdampak kekeringan. Pada bulan September, jumlah ZOM yang terpantau mencapai 169, atau sekitar 25,41 persen, dengan wilayah paling terpencil menjadi area paling rentan.
Wilayah Terpantau Hujan Deras
Tidak semua wilayah mengalami kekeringan yang sama. Beberapa daerah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Papua Barat Daya justru mencatat curah hujan yang tinggi, menciptakan perbedaan iklim yang signifikan. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi pelaku travel dan wisatawan dalam memilih waktu kunjungan ke wilayah tertentu. Dalam pernyataan dari BMKG, Azwar Makarim Aldimasqie menegaskan bahwa 37,6 persen wilayah Indonesia, atau sekitar 263 ZOM, telah memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026.
Menurut data yang dihimpun, intensitas hujan di wilayah tertentu masih mampu mengurangi dampak kekeringan, terutama di daerah dengan sistem pertanian yang berbasis irigasi. Hal ini memungkinkan Visit Agenda untuk merancang rencana kunjungan yang lebih fleksibel, dengan mempertimbangkan wilayah yang lebih sejuk sebagai alternatif.
Persiapan untuk Cuaca Ekstrem
BMKG telah memberikan peringatan dini tentang kemungkinan cuaca ekstrem pada bulan-bulan terakhir tahun 2026. Di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, suhu udara maksimum mencapai 35–35,5°C, sementara di Papua Barat suhu bahkan mencapai 38,6°C. Fenomena angin kencang juga terpantau di Jawa Barat, Maluku, dan Papua Selatan, menambah kompleksitas pengelolaan kegiatan selama musim kemarau.
“Kondisi cuaca yang diprediksi ini memerlukan persiapan yang matang, terutama bagi destinasi wisata yang berlokasi di daerah rawan kekeringan. Visit Agenda harus mengintegrasikan data cuaca dengan perencanaan jadwal kunjungan,” kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Rabu (10/6/2026).
Analisis Iklim dan Pengaruh pada Aktivitas
Pengamatan BMKG menunjukkan bahwa suhu rata-rata meningkat secara signifikan sepanjang musim kemarau, menciptakan tantangan bagi pengelolaan sumber daya air dan pertanian. Wilayah seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, dan Maluku Utara menjadi daerah yang paling rentan terhadap kekeringan, sehingga perlu pendekatan khusus dalam pengelolaan lingkungan. Dengan memahami pola cuaca ini, Visit Agenda dapat mengoptimalkan waktu kunjungan agar sesuai dengan kondisi terbaik.
Meski puncak kemarau terjadi di bulan Juli, sebagian wilayah masih bisa memanfaatkan musim kemarau awal sebagai kesempatan untuk menikmati suasana yang lebih sejuk. Karena itu, pelaku pariwisata dan pengunjung dapat memanfaatkan daftar 17 wilayah ini sebagai panduan untuk menyesuaikan rencana kunjungan dengan kondisi iklim terkini.
Strategi Adaptasi terhadap Cuaca
Sebagai bagian dari peringatan cuaca, BMKG merekomendasikan penggunaan alat bantu seperti alat pengukur kelembapan dan aplikasi prakiraan cuaca untuk memantau perubahan iklim secara real-time. Dengan dukungan teknologi ini, pelaku Visit Agenda dapat mengantisipasi potensi cuaca yang tidak menentu, seperti hujan deras atau kekeringan ekstrem, sehingga meminimalkan risiko gangguan pada kegiatan.
Wilayah seperti Jawa Tengah dan Bali juga perlu meningkatkan kesiapan menghadapi periode kemarau. Pemerintah daerah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengelola air secara lebih efisien, termasuk memperkuat sistem irigasi dan memitigasi dampak panas berlebihan. Hal ini membantu menjaga kualitas pengalaman wisatawan, terutama bagi yang mengunjungi destinasi dengan kegiatan outdoor atau pertanian.
