Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Visit Agenda: Topan Bavi Kini Hantam China, Apakah Indonesia Masih Terdampak? Ini Kata BMKG

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

pan Bavi Hantam China, Apakah Indonesia Masih Terdampak? BMKG Beri Penjelasan Visit Agenda - Badai tropis Topan Bavi, yang sempat menjadi perhatian utama Asia

Visit Agenda: Topan Bavi Kini Hantam China, Apakah Indonesia Masih Terdampak? Ini Kata BMKG

Topan Bavi Hantam China, Apakah Indonesia Masih Terdampak? BMKG Beri Penjelasan

Visit Agenda – Badai tropis Topan Bavi, yang sempat menjadi perhatian utama Asia Timur, kini telah menyentuh daratan China. Namun, apakah wilayah Indonesia masih merasakan dampak dari fenomena cuaca ekstrem ini? BMKG memberikan penjelasan terkini mengenai kondisi sistem badai tersebut serta pengaruhnya terhadap Indonesia.

Pelintasan Bavi dan Dampak di Wilayah Asia Timur

Badai Topan Bavi, yang sebelumnya dikategorikan sebagai super topan, telah melintasi Pasifik Barat sejak 10 Juli 2026. Setelah memengaruhi Filipina, Taiwan, dan Jepang, sistem ini kini berada di wilayah daratan China. Di Filipina, Bavi menyebabkan banjir dan longsor, sedangkan di Jepang, kawasan Sakishima mengalami gangguan aktivitas dengan hujan deras dan angin kencang.

Kondisi BMKG: Bavi Tidak Lagi Mengancam Indonesia

Menurut Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, Bavi telah keluar dari Area Monitoring Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta sejak 10 Juli 2026 pukul 07.00 WIB. “Posisinya kini di daratan China dengan intensitas menurun menjadi kategori 1, dan tidak lagi memengaruhi dinamika cuaca Indonesia,” jelasnya. Prakirawan TCWC Jakarta, Azhari Putri Cempaka, juga menyatakan bahwa informasi resmi tentang Bavi dari TCWC Jakarta telah ditutup.

Dalam konteks Visit Agenda, BMKG mengonfirmasi bahwa dampak Bavi di Indonesia telah berkurang secara signifikan. Meskipun sebelumnya sistem ini sempat memengaruhi wilayah Indonesia, seperti daerah sekitar Kepulauan Nusa Tenggara, saat ini tidak ada ancaman cuaca ekstrem dari Bavi yang berdampak pada aktivitas masyarakat. BMKG memperkirakan bahwa peluang hujan lebat atau angin kencang akibat Bavi di Indonesia sangat kecil.

Di China, Bavi mendarat di Provinsi Zhejiang pada malam hari Sabtu (11/7/2026). Sebelumnya, sekitar dua juta warga dievakuasi, terutama dari kawasan yang menjadi pusat ekonomi dan teknologi. Sebelum mencapai daratan China, badai ini terlebih dahulu menghantam Taiwan dan pulau-pulau di selatan Jepang. Dampak Visit Agenda Topan Bavi di Taiwan terasa jelas, dengan lebih dari 10.000 warga dievakuasi dan 150.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik.

Perkembangan Cuaca di Indonesia dan Prediksi BMKG

BMKG terus memantau kondisi cuaca di Indonesia sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Meski Bavi tidak lagi menjadi ancaman langsung, badai ini telah meninggalkan jejak, seperti hujan lebat yang memengaruhi wilayah sekitar Kepulauan Nusa Tenggara. Sejumlah wilayah seperti Kepulauan Sunda Kelapa dan Maluku Barat masih mengalami intensitas hujan tinggi akibat dampak sisa badai.

Kondisi cuaca di Indonesia saat ini dinyatakan stabil, dengan BMKG menyatakan bahwa sistem Bavi tidak lagi berpotensi mengakibatkan kerusakan serius. Namun, perlu diingatkan bahwa pengaruh sebelumnya dari badai ini bisa terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan, terutama di daerah pesisir yang rawan banjir. Pemerintah Indonesia juga disarankan untuk tetap memantau prakiraan cuaca untuk persiapan Visit Agenda yang mungkin terganggu.

Dalam penjelasannya, BMKG menyebut bahwa intensitas Bavi telah menurun drastis setelah melewati wilayah Indonesia. Badai ini sebelumnya mencapai kecepatan angin 144 km/jam, namun kini hanya tinggal sekitar 60-70 km/jam. Hal ini berdampak pada pelintasan badai yang terhenti di Indonesia, sehingga aktivitas seperti pariwisata dan transportasi dapat kembali normal.

Join the discussion