Pekerjaan Gig Jadi Pilihan Saat Akses Kerja Formal Terbatas
Lenterafakta.com – Survei – Platform digital semakin menjadi ruang mencari penghasilan bagi banyak warga yang belum memperoleh pekerjaan formal. Survei Segara Research Institute memperlihatkan bahwa 73,8 persen pengemudi ojek online memilih bergabung sebagai pekerja gig karena tidak mendapatkan kesempatan kerja formal.
Temuan itu berasal dari survei yang digelar pada Agustus hingga September 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Sebanyak 506 pekerja gig terlibat sebagai responden, termasuk 175 mitra pengemudi ojek online dan taksi daring. Hasil survei tersebut dirilis di Jakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Gambaran yang muncul tidak hanya berlaku bagi pengemudi. Dari seluruh responden, 40,3 persen menyatakan pekerjaan gig dipilih lantaran mereka belum berhasil masuk ke sektor formal. Bahkan, 57,3 persen peserta survei mengaku belum pernah bekerja di sektor formal sebelumnya.
Ragam Pekerja dalam Ekonomi Platform
Pekerjaan gig yang dicakup survei meliputi berbagai kegiatan berbasis platform digital. Di dalamnya terdapat pekerja lepas, pengemudi ojek online, pengemudi taksi daring, kurir logistik, penyedia jasa melalui aplikasi, hingga kreator konten.
Karakter ini menunjukkan bahwa ekonomi platform tidak hanya berkaitan dengan layanan transportasi atau pengantaran. Bagi sebagian orang, platform menjadi jalur yang dapat diakses untuk menawarkan keahlian, jasa, waktu, maupun tenaga kerja ketika pilihan kerja lain belum tersedia.
Di kalangan pengemudi ojol, pengalaman kehilangan pekerjaan juga menjadi bagian dari latar belakang masuknya mereka ke pekerjaan gig. Sebanyak 22,1 persen responden pada kelompok ini pernah mengalami pemutusan hubungan kerja. Kondisi tersebut menempatkan kerja berbasis aplikasi sebagai salah satu pilihan untuk kembali memperoleh pemasukan.
Segara Research Institute menilai pekerjaan gig berperan sebagai alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses ke lapangan kerja formal. Peran itu penting untuk dibaca secara utuh: pekerjaan gig dapat menjadi mata pencaharian utama, tetapi juga dapat berfungsi sebagai penopang tambahan ketika kebutuhan ekonomi tidak dapat ditunda.
Fleksibilitas Menjadi Daya Tarik Utama
Selain kebutuhan akan penghasilan, keluwesan waktu menjadi alasan kuat bagi responden untuk bekerja melalui platform. Sebanyak 88,1 persen pekerja gig dalam survei menyebut fleksibilitas sebagai keunggulan utama. Pada kelompok mitra pengemudi ojek daring, angkanya lebih tinggi, mencapai 95 persen.
Fleksibilitas tersebut dapat berarti kesempatan mengatur jam kerja sesuai kebutuhan pribadi dan keluarga. Bagi pekerja yang harus membagi waktu dengan tanggung jawab lain, karakter pekerjaan seperti ini memiliki nilai tersendiri. Namun, pilihan waktu kerja yang lebih bebas juga memperlihatkan bahwa kondisi pekerja gig tidak selalu seragam; kebutuhan, pola pendapatan, dan ketergantungan mereka pada platform dapat berbeda-beda.
Survei mencatat 81,6 persen responden menjadikan kerja gig sebagai sumber penghasilan utama. Angka ini menggarisbawahi bahwa pekerjaan berbasis platform bukan sekadar aktivitas sampingan bagi mayoritas peserta survei. Penghasilan dari pekerjaan tersebut menjadi fondasi kebutuhan sehari-hari bagi banyak responden.
Di sisi lain, 32,4 persen responden menjalankan lebih dari satu jenis pekerjaan gig. Sebanyak 18,4 persen lainnya tetap memiliki pekerjaan formal. Pola tersebut menunjukkan adanya pekerja yang mengombinasikan beberapa sumber pendapatan, baik di dalam ekosistem platform maupun dengan pekerjaan formal yang masih dijalani.
Tantangan bagi Pekerja Usia Lebih Tua
Komposisi usia juga menjadi perhatian. Sebanyak 23,3 persen mitra pengemudi ojol dalam survei berusia 45 tahun atau lebih. Segara melihat kelompok ini menghadapi hambatan yang relatif lebih besar ketika berupaya kembali memasuki pasar kerja formal.
Bagi pekerja pada kelompok usia tersebut, keberadaan platform dapat membuka peluang untuk tetap mencari pendapatan. Pada saat yang sama, data ini menegaskan perlunya kebijakan ketenagakerjaan dan perlindungan sosial yang mempertimbangkan perbedaan kondisi pekerja, bukan hanya jenis aplikasinya.
Ekonom Segara Research Institute, YB Kadarusman, menekankan bahwa karakter pekerja gig perlu diperhitungkan ketika kebijakan mengenai pekerjaan platform digital disusun. Platform selama ini menjadi salah satu pintu bagi masyarakat yang membutuhkan pemasukan, baik sebagai penghasilan pokok maupun tambahan.
“Kita ingin memberikan perlindungan, tetapi kalau desain perlindungannya membuat jumlah orang yang bisa mendapatkan pekerjaan menjadi jauh lebih sedikit, maka dampaknya terhadap masyarakat juga harus dihitung,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan perlindungan pekerja dan akses terhadap pekerjaan sebagai dua hal yang perlu dipertimbangkan bersama. Kebijakan yang dirancang untuk pekerja platform perlu memperhatikan kenyataan bahwa banyak orang masuk ke sektor ini bukan semata-mata karena preferensi, melainkan juga karena peluang kerja formal yang terbatas.
Hasil survei ini memperlihatkan bahwa pekerjaan gig telah menjadi bagian nyata dari strategi bertahan dan mencari penghasilan di berbagai kota besar Indonesia. Dengan dominannya pekerja yang menjadikan sektor ini sebagai sumber pemasukan utama, pembahasan mengenai masa depan kerja digital perlu memberi ruang bagi kebutuhan perlindungan sekaligus menjaga kesempatan masyarakat untuk tetap memperoleh pekerjaan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Survei?
Survei is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Survei matter?
Survei matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

