Skip to content
After Dark
Agustus 6, 2026
Tren

Iran dan Oman Sepakati Rute Selat Hormuz, Kenapa dengan AS Gagal Terus?

Mary Taylor - lenterafakta.com 4 mins read

Teheran dan Muskat telah menyepakati jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Langkah ini merupakan perkembangan signifikan dalam usaha membuka kembali

Iran dan Oman Capai Kesepakatan Rute Selat Hormuz, Sementara Hubungan dengan AS Masih Rumit

Lenterafakta.com – Teheran dan Muskat telah menyepakati jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Langkah ini merupakan perkembangan signifikan dalam usaha membuka kembali jalur perdagangan maritim yang sempat menjadi pusat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Esmaeil Baqaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengonfirmasi bahwa koordinat geografis untuk rute tersebut telah disetujui bersama Oman.

Meskipun demikian, Baqaei tidak memberikan rincian spesifik mengenai bentuk rute yang disepakati. Ia hanya menyatakan bahwa kesepakatan ini berada pada tahap akhir. Di sisi lain, Iran menekankan bahwa perjanjian dengan Oman saja belum cukup untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Teheran menilai blokade laut yang diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan.

Rute Sementara dan Isu Biaya Pelayaran

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, mengungkapkan bahwa rute baru ini bersifat sementara. Menurut dia, jalur tersebut dapat tetap beroperasi selama dua hingga empat bulan ke depan. Namun, Gharibabadi belum menjelaskan apakah kapal-kapal yang melewati rute ini akan dikenai biaya tertentu.

Sebelumnya, salah satu isu yang memicu ketegangan antara Teheran dan Washington adalah rencana Iran untuk mengenakan tarif kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, baik AS maupun Oman belum memberikan tanggapan resmi mengenai proposal rute tersebut.

Posisi Iran dalam Negosiasi dengan AS

Kesepakatan Iran dan Oman muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Pada Selasa, 4 Agustus 2026, Trump memperingatkan bahwa Iran akan “dihantam sangat keras” apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Pernyataan Trump disampaikan setelah sejumlah pejabat senior AS mengatakan bahwa perundingan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran telah mengalami kemajuan signifikan.

Pengiriman melalui Selat Hormuz bahkan berpotensi kembali dilakukan pada akhir pekan ini. Namun, Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak sedang bernegosiasi secara langsung dengan AS dan tidak memiliki rencana untuk melakukan perundingan tersebut. Teheran menyebut pembicaraan dilakukan dengan Oman, yang selama ini berperan sebagai mediator antara Iran dan AS.

“Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada dari pihak Amerika Serikat, terutama blokade laut serta tindakan agresif dan mengancam lainnya terhadap Iran dan kepentingannya,” kata Baqaei, dikutip dari kantor berita resmi Iran, IRNA.

Dampak Konflik terhadap Perdagangan Global

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur air tersebut. Namun, sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, Teheran sebagian besar memblokir Selat Hormuz. Akibatnya, lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun drastis dan harga minyak dunia mengalami fluktuasi tajam.

Iran juga mengatakan seluruh kapal yang ingin melintas harus mendapatkan izin terlebih dahulu. Negara tersebut bahkan telah menyerang sejumlah kapal yang disebut mengabaikan perintah tersebut.

Upaya Sebelumnya dan Tantangan Politik AS

Upaya membuka kembali Selat Hormuz sebenarnya bukan pertama kali dilakukan. Pada Juni 2026, Iran dan AS menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang bertujuan menghentikan pertempuran, membuka kembali Selat Hormuz, dan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dalam waktu 60 hari. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Perundingan diplomatik juga gagal dilanjutkan setelah serangan balasan antara Iran dan AS kembali terjadi hanya beberapa hari setelah MoU ditandatangani.

Media AS melaporkan kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan amunisi pertahanan. Tetap menutup sebagian besar Selat Hormuz juga berisiko mendorong kenaikan harga energi global dan harga bensin di dalam negeri AS. Hal ini dapat menjadi tidak populer menjelang pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections AS pada November.

Trita Parsi, wakil presiden eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, mengatakan prioritas Washington seharusnya memastikan kapal dapat melintas dengan aman, bukan mencegah Iran. “Pemerintahan Trump semakin membingkai tujuannya sebagai upaya mencegah Iran ‘mengendalikan’ selat. Namun, kepentingan utama Amerika di jalur air strategis secara historis bukan tentang siapa yang mengelolanya, melainkan apakah kapal dapat melintas secara bebas, dapat diprediksi, dan tanpa hambatan,” ujarnya.

Frequently Asked Questions

What is Iran dan Oman Sepakati Rute Selat?

Iran dan Oman Sepakati Rute Selat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Iran dan Oman Sepakati Rute Selat matter?

Iran dan Oman Sepakati Rute Selat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion