Kisah Libyan Arab Airlines 114, Salah Navigasi dan Ditembaki Jet Tempur Israel, 108 Tewas
Pada 21 Februari 1973, dunia menyaksikan tragedi penerbangan yang melibatkan Libyan Arab Airlines 114. Pesawat Boeing 727 tersebut ditembak jatuh oleh jet
Kisah Libyan Arab Airlines 114 Salah Navigasi
Lenterafakta.com – Pada 21 Februari 1973, dunia menyaksikan tragedi penerbangan yang melibatkan Libyan Arab Airlines 114. Pesawat Boeing 727 tersebut ditembak jatuh oleh jet tempur Israel saat mendekati Bandara Kairo. Perjalanan komersial ini membawa penumpang dari Tripoli menuju Bahrain, dengan dua pemberhentian terjadwal di Benghazi dan Kairo. Tragedi ini menjadi salah satu insiden penerbangan paling dramatis dalam sejarah penerbangan komersial di wilayah Timur Tengah.
Rute dan Kondisi Penerbangan
Menurut catatan Bureau of Aircraft Accident Archives (BAAA), jalur Benghazi–Kairo umumnya mengarah ke timur menyusuri pesisir utara Libya hingga mencapai Sidi Barrani di Mesir. Setelah itu, pesawat harus berbelok ke daratan menuju kawasan VHF Omnidirectional Range (VOR) dan Non-Directional Beacon (NDB) di barat Danau Qarun.
Pesawat kemudian memasuki terminal Kairo melalui jalur sepanjang 71 mil laut atau 131 kilometer yang memisahkan Danau Qarun dari VOR Kairo. Pada pukul 13.45 waktu setempat, Menara Pengatur Lalu Lintas Udara Kairo (CTC) melihat pesawat mendekat dari arah barat dan memberikan izin mendarat di landasan pacu 23. Kondisi cuaca saat itu cukup baik, namun angin kencang di lapisan atmosfer atas mulai mempengaruhi navigasi pesawat.
Kesalahan Navigasi yang Berakibat Fatal
Anehnya, pada pukul 13.50 CTC mengamati Boeing tersebut bergerak ke timur menuju Terusan Suez. Pesawat sudah menyimpang dari rute saat melaporkan posisinya di atas Qarun. Kemungkinan besar, angin barat kencang di lapisan atas yang berkaitan dengan badai pasir di lapisan bawah menjadi penyebabnya. Badai pasir memaksa awak pesawat mengandalkan navigasi instrumen.
Sayangnya, kesalahan instrumen dan navigasi menyebabkan pesawat memasuki wilayah udara Israel saat terbang di atas Semenanjung Sinai. Saat itu, pesawat sudah tidak terdeteksi oleh pengawas lalu lintas udara Mesir. Awak pesawat mengira mereka sudah dekat dengan bandara tujuan dan mulai melakukan penurunan ketinggian.
Awak pesawat mengira mereka sudah dekat dengan bandara tujuan dan mulai melakukan penurunan ketinggian.
Pencegatan oleh Jet Tempur Israel
Pada pukul 13.55, radar Israel mendeteksi pesawat saat memasuki wilayah udara mereka. Posisi pesawat berada di sebelah tenggara Suez pada ketinggian 15.000 kaki atau 4.600 meter. Dua pesawat Phantom dari Angkatan Udara Israel segera dikirim untuk mencegat pesawat yang belum teridentifikasi tersebut.
Setelah komunikasi dengan CTC terhubung kembali, pilot Libyan Arab Airlines 114 melihat ke luar jendela kiri kabin dan menyaksikan pesawat tempur tersebut. Namun, sang pilot salah mengira pesawat-pesawat Israel sebagai pesawat MiG milik militer Mesir. Pesawat asal Libya terus terbang semakin jauh ke dalam wilayah Sinai dengan kecepatan 325 mil per jam atau 523 km/jam, lalu tiba-tiba berbelok ke arah barat.
Pada saat itulah awak pesawat menyadari bahwa instrumen mereka mengalami gangguan. Para pilot pesawat tempur Israel berusaha melakukan kontak visual dengan awak pesawat penumpang. Mereka mencoba berkomunikasi melalui isyarat tangan serta gerakan menundukkan sayap. Namun, tanggapan awak pesawat Boeing 727 itu ditafsirkan sebagai penolakan.
Tembakan dan Jatuhnya Pesawat
Langkah Libyan Arab Airlines 114 yang mengambil arah ke barat ditafsirkan oleh para pilot Israel sebagai upaya untuk melarikan diri. Para pilot pesawat Phantom Israel kemudian melepaskan rentetan tembakan dari meriam M61 20 mm mereka. Tembakan tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada permukaan kendali, sistem hidraulik, dan struktur sayap pesawat penumpang.
Libyan Arab Airlines 114 kemudian mencoba melakukan pendaratan darurat di kawasan yang dipenuhi bukit pasir. Sayangnya, pesawat itu berujung jatuh disertai ledakan di dekat roda pendaratan utama sebelah kanan. Dari total 113 orang di dalam pesawat yang terdiri dari 104 penumpang dan sembilan awak, 108 orang tewas. Empat penumpang dan kopilot berhasil selamat.
Korban dan Dampak Tragedi
Angkatan Udara Israel menganggap Penerbangan 114 sebagai ancaman keamanan, dengan kekhawatiran bahwa pesawat tersebut mungkin sedang menjalankan misi mata-mata udara di atas pangkalan udara Israel di Bir Gifgafa. Penerbangan ini dipiloti oleh Kapten Jacques Bourges, seorang pilot yang berasal dari Air France.
Tragedi ini menjadi salah satu insiden penerbangan paling dramatis dalam sejarah penerbangan komersial di wilayah Timur Tengah. Insiden ini juga menyoroti pentingnya navigasi yang akurat dalam penerbangan internasional, terutama di wilayah dengan konflik politik yang kompleks.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Tragedi Libyan Arab Airlines 114
Apa penyebab utama kesalahan navigasi pada penerbangan 114? Angin kencang di lapisan atmosfer atas dan badai pasir di lapisan bawah menyebabkan pesawat menyimpang dari rute yang seharusnya.
Berapa jumlah korban jiwa dalam tragedi ini? Dari 113 orang di dalam pesawat, 108 orang tewas dan 5 orang selamat, termasuk empat penumpang dan satu kopilot.
Mengapa pilot Libyan mengira pesawat Israel sebagai pesawat Mesir? Pilot mengira pesawat Phantom Israel sebagai pesawat MiG milik militer Mesir karena kesamaan bentuk dan posisi pesawat tempur saat mencegat.
Apakah ada penyelidikan resmi setelah tragedi ini? Ya, kedua belah pihak melakukan penyelidikan. Israel menganggap pesawat sebagai ancaman keamanan, sementara Libya menyalahkan kesalahan navigasi dan tembakan yang tidak perlu.
