Tren

Kronologi Kejatuhan Nicolae Ceausescu, dari Pidato yang Dicemooh hingga Dihukum Mati

Lenterafakta.com – Presiden Rumania yang menjabat pada 1965-1989 bernama Nicolae Ceausescu dihukum mati karena menjalankan pemerintahan yang diktator. Kediktatoran itu salah satunya berbentuk represifitas terhadap sipil. Demonstrasi besar-besaran pun terjadi.

Ceausescu pun sempat menyalahkan kondisi karena adanya pengaruh asing. Ia memiliki polisi rahasia yang menerapkan kontrol ketat atas kebebasan berbicara dan media, serta tidak mentoleransi perbedaan pendapatan atau oposisi internal. Ceausescu juga menerapkan kebijakan ekspor sebagian besar produksi pertanian dan industri Rumani.

Dikutip Britannica, hal itu memicu kelangkaan pangan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lain yang ekstrem. Dia juga mengagungkan kepribadiannya serta menunjuk istrinya, Elena serta banyak anggota keluarga besarnya di jabatan tinggi pemerintahan dan partai. Lantas, bagaimana kronologi keruntuhan Nicolae Ceausescu hingga dia dihukum mati?

Kejatuhan Nicolae Ceausescu bermula pada Desember 1989. Ketika itu, pendeta gereja di Timisoara bernama Laszlo Tokes menghadapi penggusuran. Untuk mencegak hal itu terjadi, para jemaat membentuk rantai manusia di sekitar rumahnya, meneriakkan slogan-slogan anti-Ceausescu dan merobek potret pemimpin tersebut.

Sebagai tanggapan, pasukan keamanan negara Rumania melepaskan tembakan. Akibatnya, lebih dari 70 orang tewas. Diduga berupaya untuk menutupi pembunuhan tersebut, pemerintah dilaporkan memindahkan 43 jenazah ke Bukarest untuk dikremasi.

Demonstrasi mengenai pembunuhan massal itu terjadi. Sementara itu, Nicolae Ceausescu meninggalkan Rumania. Dilansir dari All Thats Interesting, Ceausescu meninggalkan Rumania untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Iran.

Dia berkeyakinan bahwa kerusuhan yang mungkin timbul dapat diredam setelah ia kembali ke Rumania. Asumsi tersebut ternyata sangat keliru. Ketika kembali, dia segera menyalahkan pengaruh asing atas reaksi negatif tersebut.

Ketika ketegangan tidak segera mereda, Ceausescu merencanakan demonstrasi besar pro-pemerintah di Lapangan Istana, Bukares pada 21 Desember 1989. Ceausescu memastikan para peserta demo dilengkapi dengan spanduk dan papan tanda pro-Ceausescu, serta diberitahu bahwa mereka harus bersorak saat ia berpidato. Namun begitu, kondisi tidak sesuai apa yang diharapkan Ceausescu.

Para hadirin justru diam saat Ceausescu memulai pidato. Satu menit setelah pidatonya dimulai, kerumunan mulai mencemooh dan meneriakkan “Timisoara” yang merujuk pada pembantaian tersebut. Terlihat terguncang, Ceausescu secara tak terduga mengumumkan kenaikan upah, pensiun, dan tunjangan sosial dalam upaya memenangkan kembali hati kerumunan.

Upaya tersebut tidak berhasil. Pada akhir pidatonya, Bukares telah mulai terjerumus ke dalam keadaan pemberontakan terbuka. Nicolae Ceausescu yakin ia bisa menunggu hingga pemberontakan mereda.

Meski begitu, ketegangan justru meningkat. Keesokan paginya, 22 Desember 1989, Menteri Pertahanan Rumania Vasile Milea ditemukan dalam keadaan terluka parah hingga tewas. Meski pemerintah mengeklaim bahwa Milea telah bunuh diri, laporan-laporan selanjutnya menunjukkan bahwa ia telah menolak atau gagal melaksanakan perintah untuk menembak para demonstran secara tegas, sehingga ia terpaksa bunuh diri.

Hal tersebut kemudian memicu perlawanan di dalam angkatan bersenjata terhadap Ceausescu. Merasa bahwa situasi mulai lepas kendali, Ceausescu mengumumkan keadaan darurat dan berusaha menyampaikan pidato kepada rakyat Rumania sekali lagi. Namun pada saat itu, para demonstran sudah mulai memasuki gedung-gedung pemerintahan.

Sekitar tengah hari, Nicolae Ceausescu dan istrinya, Elena, naik ke atap gedung Komite Sentral Partai Komunis Rumania. Mereka kemudian naik ke helikopter, melarikan diri tepat saat para demonstran membanjiri kompleks pemerintahan. Sebagian besar penduduk Rumania tercatat telah berbalik melawan pemimpin mereka.

Pelarian Ceausescu pun berpindah-pindah. Setelah singgah di kompleks kepresidenan di Snagov, tempat Ceausescu memerintahkan bala bantuan, helikopter melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan tersebut, Ceausescu berulang kali menghubungi berbagai pangkalan udara dan tempat pendaratan potensial.

Hal itu disadari bahwa banyak dari mereka telah memutuskan untuk berhenti menanggapi perintah Ceausescu. Bala bantuan yang diminta tidak pernah tiba. Tampaknya kekacauan ini telah menakutkan pilot helikopter Nicolae Ceaușescu, Letnan Kolonel Vasile Maluțan.

Tanpa peringatan, Maluțan mengumumkan bahwa mereka harus melakukan pendaratan mendadak. Ia beralasan bahwa terbang lebih jauh akan membuat mereka berisiko ditembak jatuh. Helikopter tersebut pun mendarat, menurunkan Nicolae, Elena, dan pengawal mereka di pinggir jalan sebelum berangkat.

Tanpa rencana darurat, para pengawal menghentikan sebuah mobil yang dikemudikan oleh pria bernama Nicolae Deca. Deca diancam agar mau membawa kelompok itu naik ke mobilnya. Saat mereka berkendara, ketegangan meningkat.

Mobil yang dikendarai Deca pun tiba di desa Vacaresti. Dia memberi tahu kepada rombongan itu bahwa ada masalah dengan mobilnya dan mereka harus turun. Setelah keluar dari mobil, kelompok itu mulai mencari pengemudi lain.

Mereka menemukan Nicolae Petrisor. Para pengawal Ceausescu mendekatinya dengan senjata terhunus. Sembari rombongan melanjutkan perjalanan, Petrisor mendengarkan radio.

Stasiun-stasiun radio kini mengumumkan bahwa pemerintahan Nicolae Ceausescu telah jatuh dan revolusi sedang berlangsung. Ketika mobil berhenti di Pabrik Baja Khusus di Targoviste, kendaraan tersebut ditolak masuk. Akhirnya, Petrisor berhasil memarkir mobilnya di Pusat Perlindungan Tanaman, sebuah fasilitas pertanian di pinggiran Targoviște.

Direktur pusat tersebut, Victor Seinescu menyambut rombongan itu dan membawa mereka ke sebuah ruangan. Kemudian, Seinescu mengunci pintu ruangan itu dan segera memberitahukan keberadaan mereka kepada pihak berwenang. Tak lama kemudian, sekelompok milisi tiba dan menangkap Elena serta Nicolae Ceausescu.

Merasa bahwa kekuasaan Nicolae Ceausescu telah runtuh, tetapi masih ragu-ragu harus berbuat apa, para petugas kepolisian setempat menahan sang diktator dan istrinya selama dua hari. Ceausescu bersikeras bahwa kekuasaannya masih sah, tetapi laporan radio menyatakan bahwa para revolusioner telah menang dan bahwa tentara kini berpihak pada para demonstran. Pasangan Ceausescu segera menyadari sejauh mana keberhasilan revolusi tersebut.

Beberapa anggota staf telah melepas lambang resmi dari seragam mereka. Meskipun Nicolae Ceausescu pada dasarnya sudah tidak berkuasa selama sebagian besar periode kekerasan tersebut, tanggung jawab atas peristiwa itu serta kekejaman selama 24 tahun masa pemerintahannya, dibebankan kepadanya. Ceausescu dan istrinya diputuskan akan diadili di ruang sidang kecil yang disiapkan secara darurat di dalam unit militer tempat mereka ditahan.

Sidang tersebut dijadwalkan berlangsung pada Hari Natal tahun 1989. Akhirnya, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Nicolae dan Elena Ceausescu. Pasangan itu kemudian dibawah ke halaman unit militer.

Nicolae mulai menyanyikan lagu “The Internationale” dan istrinya mencaci maki para perwira yang hadit. Keduangany dengan cepat ditembak mati oleh regu tembak. Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7.

Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Frequently Asked Questions

What is Kronologi Kejatuhan Nicolae Ceausescu dari Pidato?

Kronologi Kejatuhan Nicolae Ceausescu dari Pidato is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kronologi Kejatuhan Nicolae Ceausescu dari Pidato matter?

Kronologi Kejatuhan Nicolae Ceausescu dari Pidato matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *