Skip to content
After Dark
Agustus 6, 2026
Tren

Makan Bergizi di Thailand: Siswa Dilibatkan Urus Ternak dan Kebun Sekolah Sebelum Masuk Kelas

Jennifer Thomas - lenterafakta.com 3 mins read

Makan Bergizi di Thailand kini menjadi inspirasi bagi banyak negara dalam meningkatkan kualitas nutrisi anak sekolah. Di Distrik Suan Phueng, Provinsi

Makan Bergizi di Thailand: Siswa Urus Ternak dan Kebun Sekolah

Lenterafakta.com – Makan Bergizi di Thailand kini menjadi inspirasi bagi banyak negara dalam meningkatkan kualitas nutrisi anak sekolah. Di Distrik Suan Phueng, Provinsi Ratchaburi, tepatnya sekitar 170 kilometer dari ibukota Bangkok dan berdekatan dengan perbatasan Thailand-Myanmar, terdapat sebuah institusi pendidikan yang mengintegrasikan aktivitas pertanian ke dalam kurikulum harian. Ban Tham Hin Border Patrol Police School telah menerapkan sistem produksi pangan mandiri selama 26 tahun terakhir melalui program peternakan ayam petelur. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya “Raising Layers for Students’ Lunch” yang digagas oleh Charoen Pokphand Foods Public Company Limited (CPF) bersama The Charoen Pokphand Foundation for Rural Life Development.

Rutinitas Pagi yang Berbeda

Sebelum bel sekolah berbunyi, para peserta didik tidak sekadar menyiapkan buku pelajaran. Mereka meluangkan waktu untuk mengunjungi kandang ayam serta kebun sayur yang terletak di area kampus. Aktivitas yang dilakukan meliputi pengisian wadah air, pemberian pakan, pencatatan jumlah telur, serta pengecekan kesehatan ternak. Hasil panen kemudian diolah menjadi komponen menu makan siang yang dikonsumsi beberapa jam kemudian. Proses ini memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan asupan protein berkualitas tinggi yang segar dan sehat.

Bagi anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil Thailand, memperoleh akses terhadap makanan bergizi dan aman bukanlah hal yang mudah. Faktor geografis, kondisi ekonomi rumah tangga, dan keterbatasan distribusi pangan menjadi hambatan utama. Melalui pendekatan berbasis sekolah ini, para siswa tidak hanya mendapatkan sumber protein berkualitas, tetapi juga mempelajari nilai-nilai tanggung jawab, keberlanjutan, kewirausahaan, dan ketahanan pangan. Baca juga: Program Pangan Mandiri di Sekolah Perbatasan Thailand

Jangkauan Program yang Luas

Menurut laporan Bangkok Post pada Selasa (4/8/2026), program ini telah menjangkau 1.028 sekolah di seluruh Thailand, dengan fokus utama pada wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Setiap harinya, siswa-siswi merawat hampir 200 ekor ayam sebelum memulai kegiatan belajar di kelas. Telur yang dikumpulkan dialokasikan untuk kebutuhan makan siang, sementara surplusnya dijual kepada masyarakat sekitar. Pendapatan dari penjualan tersebut menjadi pemasukan tambahan yang mendukung keberlangsungan program dan perluasan kegiatan produksi pangan.

Selain menyediakan ayam petelur, program ini juga memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan produksi pangan, standar kebersihan, keamanan makanan, serta teknik pencatatan hasil produksi. Para siswa belajar cara menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan mengelola keuangan sederhana. Keterampilan ini sangat berharga untuk masa depan mereka sebagai wirausahawan potensial.

Pelajaran yang Lebih Dalam

Kepala Sekolah Ban Tham Hin Border Patrol Police School, Pol Snr Sgt Maj Malinna Sangkaew, menekankan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada cara memelihara ayam.

“Mereka belajar bahwa setiap makanan yang sampai ke meja makan berasal dari tanggung jawab dan kontribusi banyak orang,” ujarnya.

Guru yang menangani program ini, Pol Snr Sgt Maj Nannippus Waewphet, membimbing siswa dalam setiap tahapan kegiatan. Para siswa yang lebih senior bahkan mengajarkan keterampilan tersebut kepada adik kelasnya, sehingga program dapat terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sistem mentorship ini menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan inklusif.

Pengalaman yang ditunjukkan oleh Ban Tham Hin membuktikan bahwa ketahanan pangan di sekolah tidak hanya bergantung pada bantuan bahan makanan. Produksi yang berkelanjutan memerlukan pengetahuan, standar kebersihan, perencanaan matang, serta kemampuan mengelola hasil produksi. Ayam petelur hanyalah langkah awal, sedangkan pemahaman mengenai keamanan pangan dan pengelolaan sistem produksi memungkinkan program ini bertahan dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga sosial, inisiatif di Thailand ini berupaya membangun sistem pangan yang berasal dari komunitas sendiri. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk memahami bagaimana makanan diproduksi dan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber pangan.

FAQ: Makan Bergizi di Thailand

1. Berapa banyak ayam yang dirawat oleh siswa setiap hari? Siswa-siswi merawat hampir 200 ekor ayam petelur setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar di kelas.

2. Apa saja aktivitas yang dilakukan siswa di pagi hari? Aktivitas meliputi pengisian wadah air, pemberian pakan, pencatatan jumlah telur, serta pengecekan kesehatan ternak.

3. Berapa sekolah yang telah mengikuti program ini? Program ini telah menjangkau 1.028 sekolah di seluruh Thailand, dengan fokus utama pada wilayah pedesaan dan daerah terpencil.

4. Bagaimana surplus telur digunakan? Telur yang dikumpulkan dialokasikan untuk kebutuhan makan siang, sementara surplusnya dijual kepada masyarakat sekitar sebagai pemasukan tambahan program.

Join the discussion